Tandri Eka Putra, Wartawan Padang Ekspres
Berbagai ekspresi ditunjukkan pendaki perdana Gunung Marapi. Saya pribadi takjub luar biasa. Saya makin yakin Tuhan itu Mahakuasa. Teman saya, dari Tanah Pasundan, takbiran ketika mencapai puncaknya. Ada teman dari Jambi, sujud syukur, adapula dari daerah lain berteriak dan berlarian di "lapangan bola". Lapangan bola istilah untuk kawasan puncak Gunung Marapi, berupa hamparan luas padang pasir dan batuan gunung.
Tulisan ini cuplikan pengalaman pendakian Gunung Marapi tahun 1990 hingga 2000-an. Namun dari foto, cerita dan pengalaman kawan-kawan, tidak banyak berubah dari Marapi.
Pendakian menuju Gunung Marapi masih dianggap sedang. Untuk sistem pendakian tektok satu harian bisa untuk pendaki perdana, apalagi yang umurnya belasan atau 20 tahunan. Untuk mencapai puncak dibutuhkan waktu normal 6 jam. Untuk turun butuh waktu 3 jam. Kalau berlarian, setengah dari waktu normal bisa terkejar.
Walau tidak dianjurkan, banyak pendaki memulainya di malam hari. Kisaran tahun 90-an Bus ANS dari Padang kalau malam minggu pasti dipenuhi pendaki Marapi. Sore, besok harinya mereka kembali naik bus ke Padang. Itu semua kadang hanya untuk lihat sunrise di Puncak Gunung Marapi. Jalanan sepanjang puncak Marapi seperti pasar malam waktu itu. "Singgah ngopi kareaan (rekan-red)," sapaan ramah sepanjang jalan pendakian.
Suasana sunrise di puncak Marapi bisa didapatkan pada saat jelang subuh. Kita akan merasa berdiri di atas awan. Cahaya matahari menyeruak di balik kabut. Rasanya sudah luar biasa, pengobat lelah mendaki. Setelah itu bisa menikmati luasnya lapangan bola, menuju tepian bukit pasir yang mengelilingi kawah dan mencapai puncak yang biasa disebut Puncak Merpati.
Turun dari Puncak Merpati akan ada Taman Edelweis. Bunga abadi. Di situ juga ada mitos tumbuh buluh (bambu) perindu, yang dipercaya bisa sebagai bahan pelet yang buat perempuan jatuh cinta. Namun jarang yang ke sana, selain jalannya terjal, daerah itu juga disebut hutan larangan. Sekali masuk, susah pulang.
Gunung Marapi memiliki kawah utama dengan lingkaran atas sekitar seratusan meter dengan dalam berisi pasir dan batuan yang mengeluarkan asap belerang, kira-kira 30 meteran ke bawah. Beberapa sudut Marapi juga memiliki titik belerang dari sela-sela batu cadas. Daerah puncak ini jika siang panas sekali, berdebu.
Saya pernah ikut operasi SAR dengan basecamp di lapangan bola. Hampir seminggu di sana. Saya menyaksikan batu sebesar rumah, hancur berkeping-keping jadi pecahan sebesar ban mobil. Saking panasnya, kulit wajah akan retak-retak dan mengelupas. Padahal itu hanya sehari saya yang betul-betul di lapangan bola. Saat piket jaga tenda.
Biasanya pendaki tidak akan berlama-lama di cadas Marapi. Siang hari selain panas, asap belerang akan menyebar menyesakkan dada. Turun dari cadas Marapi, sebaiknya saat matahari masih jelas yaitu siang hari. Kalau turun sore atau suasana sudah gelap, jalur turun dari cadas akan menyesatkan. Jalur normal akan terlihat gelap. Sedangkan jalur daerah Badorai akan terang, terkena cahaya Kota Bukittinggi, inilah yang yang sering menyebabkan pendaki tersesat. Mereka akan masuk hutan larangan dengan topografi membingungkan.
Selain itu, turun siang penting bagi pendaki jika memperhitungkan waktu turun dan pulang ke rumah. Biasanya pendakian dilakukan pada Sabtu dan turun pada hari Minggu. Hari Senin sudah bisa beraktivitas normal: sekolah, kuliah atau bekerja.
Turun dari cadas Gunung Marapi mungkin lebih susah dari mendakinya. Badan sudah lelah, psikologis juga terbayang jauhnya jalur turun yang sama dengan jalur pendakian. Jalanan pasir berbatu dan risiko tinggi ketika terpeleset. Badan atau kepala terjatuh di atas batu, apalagi kalau terguling-guling di cadas yang terjal. Beda kalau di vegetasi hutan yang ditutupi tanah gembur dan memiliki pegangan tumbuhan.
O iya, dulu ada kebiasaan sweeping dari tim posko pendakian pada Minggu sore dan malam. Jika ada pendaki yang lewat waktu, atau sekadar recheck jumlah pendaki. Kebiasaan ini lumrah hampir di setiap posko pendakian gunung. Beberapa waktu lalu, saya terlambat turun Gunung Singgalang, karena kaki terkilir, malah mau dijemput tim posko.
Ada lagi cerita unik. Biasanya kita membujuk pendaki perdana dengan cerita ada bakso atau gorengan di kawasan puncak. Nah di Gunung Marapi dulu pernah ada, entah kalau sekarang. Anak penjual gorengan akan bolak-balik naik Gunung Marapi untuk antar bahan. Gerakan anak itu jadi motivasi, pendaki perdana.
O ya, jika melalui jalur Koto Baru, vegetasi awalnya itu adalah ladang penduduk. Jika pagi hari melewatinya, Anda akan bisa membeli sayuran segar. Setelah posko yang ada tower telkom, kita akan bertemu vegetasi bambu. Ini saatnya mengisi air. Setelah itu pendakian akan melewati pohon-pohon besar. Biasanya pendaki istirahat di pertengahan atau biasa disebut pinggang setinggi 1.750 mpdl. Tinggi Gunung Marapi itu lk 2.885 mdpl.
Jalur masuk ke Marapi dulu cuman dua yaitu Simabua Batusangkar dan Koto Baru Agam. Kabarnya ada jalur Batu Palano yang jarak tempuh ke puncak lebih pendek. Saya berjanji akan mengajak pendaki cewek cilik ke sana bulan Desember ini. Ia telah minta sejak pertengahan tahun, sejak abangnya sudah mendaki Gunung Marapi. Mungkin tak jadi, menunggu status aman dulu.
Banyak penyuka alam bebas tidak lagi mengejar puncak Marapi. Ngopi di posko atau kemping di 1.750 sudah cukup. Ngobrol dan tidur di tenda, mereka sudah dapat suasana. Kadang teman-teman hanya ngopi dan makan malam. Setelah itu balik pulang.
Lanjut jelang cadas atau biasa disebut batas vegetasi atau Camp 3, akan ditemukan vegetasi ransam. Kayu kayu kering berdiri tanpa daun. Jika anda merencanakan pendakian dua hari. Nginapnya di sini. Jelang subuh baru naik cadas Marapi, untuk lihat sunset.
Letusan Gunung Marapi telah pernah merenggut korban jiwa. Itu ditandainya dengan adanya Tugu Abel Tasman di dekat lapangan bola. Pendaki itu tewas, terkena batuan panas.
Tahun ini, tepat awal Desember 2023, Gunung Marapi kembali meletus. Sebanyak 75 orang pendaki diterjang abu pas, dan dilaporkan lebih dari 20 pendaki yang meninggal dunia. Doa kita semua, semoga Allah SWT memberikan surga untuk mereka.
Untuk pendaki lainnya, kita memang harus selalu berencana dan siap menghadapi segala kondisi, walau bencana dan maut datang tak mengenal waktu dan tempat. Untuk seluruh potensi SAR, terima kasih telah berbuat. Tuhan bersama orang-orang yang berani. Lestari...! (***) Editor : Hendra Efison