Di depan ratusan wisudawan, orangtua, dan civitas akademika, Mahfud membeberkan peran penting Sumbar bagi Republik Indonesia. Sumbar, kata Mahfud, adalah penyelamat Republik Indonesia dari kekosongan kekuasaan pasca proklamasi Kemerdekaan.
Setelah Ibu Kota Republik pindah ke Yogyakarta, dan Presiden Soekarno ditangkap, Syafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.
“Sehingga, tak ada kekosongan pemerintahan yang berpotensi diambil alih oleh pemerintah penjajahan Belanda. Sumatera Barat ini penyelamat Republik,” kata Mahfud saat orasi ilmiah.
Peran penting Sumbar lainnya, yakni secara intelektual telah membangun integrasi ke-Islaman dengan nasionalisme ke-Indonesiaan. Cendekia nasionalis dan agamis banyak lahir di ranah Minang ini.
“Buya Hamka, Mohammad Natsir, Bung Hatta, dan banyak lagi intelektual lainnya yang mengihiasi pemikiran dan perjuangan bangsa ini,” ungkap Mahfud. Karena itulah, Mahfud mengajak anak muda, utamanya mahasiswa untuk bersetia dan selalu membela negara.
“Dari manapun asal kalian, setialah kepada Republik Indonesia. Dari Sumatera Barat inilah, 19 Desember jadi Hari Bela Negara,” ajak Mahfud.
Saat ini, lanjut mantan Ketua MK ini, bela negara secara substansinya masih sangat relevan. Karena, ancaman dan tantangan geopolitik Indonesia yang ada di tengah-tengah pertarungan negara-negara besar.
Belum lagi ancaman kehancuran bagi negara daulat seperti radikalisme, terorisme, hingga ancaman ideologis. Ditambah parktek korupsi dan hukum serta keadilan yang tidak benar ditegakkan.
“Semua itu penyebab negara hancur. Tumbuhkan sikap pratiotisme dan kawal terus penegakan hukum dan keadilan. Salah satunya levelnya, minimal anda bekerja dengan penuh kejujuran di bidang masing-masing,” pesan Mahfud MD yang merupakan ninik mamak orang Minang karena tahun 2012 mendapatkan gelar Angku Majo Sadeo dari masyarakat Magek, Minangkabau ini.
Selain mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati, Mahfud juga memberi sejumlah pesan penting. Mahfud mengingatkan, para sarjana yang akan masuk ke laboratorium sesungguhnya di masyarakat.
Jika tak lulus saat di universitas, bisa mengulang lagi. Jika di laboratorium masyarakat, saat gagal dan salah, akan sulit diperbaiki. “Hati-hati melangkah,” tuturnya.
Mahfud mengingatkan, sarjana hanyalah tanda keahlian di bidang ilmu. Sarjana belum tentu intelektual yang berdasar kemuliaan moral. Artinya, jangan hanya jadi sarjana.
Tetapi, harus jadi intelektual. Banyak sarjana hukum pakai pasal dengan keahliannya untuk menipu orang. Karena kebenaran bukan ditentukan oleh bunyi pasal, tetapi bisikan hati nurani berdasarkan moral.
“Mencerdaskan otak, memuliakan watak. Landasi ijazah anda dengan moralitas. Di tanah Minang ini, agama sangat penting sebagai landasan tindakan. Sesuai konstitusi ilmu pengetahuan (Iptek) dikembangkan berdasarkan iman, taqwa, akhlak,” katanya.
Dikatakan, dari total jumlah koruptor, 84 persen adalah lulusan perguran tinggi. Jumlah koruptor 1.300, kira-kira 900 orang adalah sarjana. “Tetapi, ada 17, juta lulusan perguruan tinggi. Yang rusak hanya sedikit.
Artinya apa, selain mengasah otak, juga harus perbaiki wataknya. Mari kita jaga Indonesia ini melalui semangat bela negara agar tercapai Indonesia Emas 2045,” ungkap Cawapres nomor urut 3 ini.
Usai orasi Ilmiah di UNP, Mahfud hadir dalam acara Halaqoh Kebangsaan dan Pelantikan Majelis Dzikir Al Wasilah di Asrama Haji Padang, Jalan Parupuk Tabing, Kototangah, Kota Padang.
Banyak Ibu-Ibu Sumbar Lahirkan Tokoh Besar
Menko Polhukam Mahfud MD di depan ratusan ibu-ibu Majelis Dzikir Al Wasilah dalam acara Halaqoh Kebangsaan dan Pelantikan Majelis Dzikir Al Wasilah di Asrama Haji Padang, Jalan Parupuk Tabing, Kototangah, Kota Padang, Sumatera Barat, mengingatkan pentingnya berorganisasi dengan benar.
“Kebenaran kalau tidak diorganisir dengan baik, maka akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik. Yang jahat bisa menang dari yang baik. Makanya, berhimpunlah dengan baik para pengurus yang barus saja dilantik,” pesan Mahfud mengawali Halaqoh Kebangsaannya.
Mahfud yang disebut dalam acara ini sebagai Buya Prof Mahfud MD Angku Majo Sadeo, juga berpesan kepada hadirin yang sebagian besar bu-ibu. Mahfud menyitir ungkapan surga terletak di bawah telapak kaki ibu. Artinya, kaki ibu sebagai tempat berjalan menuju kebaikan. Nasib generasi, tergantung sikap ibunya.
“Kalau ibunya baik, maka akan baik juga anaknya. Ibu-ibu hendaknya rajin menanamkan ajaran agama dengan baik. Arahkan anak dan keluarga dengan baik,” pesannya.
Mahfud juga menukil dalil yang menyebut kaum perempuan adalah tiangnya negara. Perempuannya baik, maka negaranya baik. Begitu sebaliknya. “Ibu-ibu punya peran penting membangun negara,” tuturnya.
Sebab, diingatkan Mahfud, di dalam banyak kasus, suami-suami yang terjerumus kasus korupsi, karena istrinya tidak baik. “Gajinya Rp 20 juta belanjanya Rp 50 juta. Terpaksa ngutip sana, ngutip sini. Ibu-ibu bertugas memajukan negara dan bangsa menjadi ibu dan istri yang baik. Mendorong suami agar selalu berbuat baik di tempat pekerjaan,” imbau mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.
Melalui majelis dzikir ini, Mahfud menyarankan, seluruh hadiri sering berkumpul, dzikir, tahlilan, dan shalawatan bersama. Berdoa untuk bangsa ini. Dengan begitu, ibu-ibu Sumbar, juga diharapkan kembali mencetak kader pemimpin bangsa.
“Dari Sumatera Barat ini, banyak ibu-ibu yang melahirkan tokoh besar pemikir dan pejuang bangsa. Teruskan tradisi ini, melahirkan pemimpin yang besar yang berguna bagi bangsa dan negara ini,” pungkasnya.
Usai kegiatan ini, Mahfud sempat mampir di Kantor Partai Hanura Jalan Belanti Padang untuk tanya jawab dengan kader partai pengusung dan awak media. Kegiatan bertajuk Ngopi Bareng Mahfud ini, dihadiri sejumlah pimpinan media, perwakilan IJTI, AJI, PWI, JPS dan lainnya.
Setelahnya, menghadiri pertemuan dan pelantikan TPC Ganjar-Mahfud se-Sumatera Barat di Hotel Truntum, Kota Padang. Mahfud memungkasi kunjungan hari pertamanya di Padang dengan menghadiri dialog dengan PW Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Aisyah, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Kota Padang. (r) Editor : Novitri Selvia