Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Subbet dan Sagu Kapurut, Kearifan Pangan Lokal Desa Saibi Samukop

Tandri Eka Putra • Sabtu, 30 Desember 2023 | 21:21 WIB
Tim UKM Penalaran di Mentawai
Tim UKM Penalaran di Mentawai
PADEK.JAWAPOS.COM - Pernahkah anda mendengar makanan "Subbet" dan "Sagu Kapurut"?. Makanan khas tradisional di Desa Desa Saibi Samukop di Kecamatan Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai.

Subbet, merupakan hidangan lokal yang awalnya berasal dari daerah Tua Pejat, Pulau Sikakap. Proses pembuatannya dimulai dengan talas yang direbus, dikeringkan, dan kemudian dihancurkan dengan alat khas Mentawai yang disebut "tutudduk". Hidangan ini disajikan bersama kelapa, dan terkadang dicampur dengan pisang.

"Sagu Kapurut juga menjadi santapan khas Siberut. Hidangan ini terbuat dari tepung sagu yang disaring, dicampur dengan kelapa parut, dan selanjutnya dibungkus dengan daun sagu sebelum dibakar," terang Gareta, salah satu warga yang akrab dipanggil nenek Gareta kepada tim pengabdian masyarakat UKM Penalaran Unand, awal Desember 2023.

Photo
Photo
Subbet dan sagu kapurut

Subbet dan sagu kapurut sangatlah menarik, sebut Aulia Admeiva Fitri dalam relisnya kepada redaksi. Subbet, memiliki bentuk yang menyerupai klepon tanpa isian, serta teksturnya lembut dan cita rasa yang tidak terlalu manis, dengan karakter rasa yang didominasi oleh talas. Penambahan rasa manis berasal dari kelapa yang melapisi subbet.

Disisi lain, Sagu Kapurut memiliki tekstur lembut saat masih hangat, namun ketika sudah dingin, teksturnya bisa terasa lebih keras. Rasa dari Sagu Kapurut cenderung hambar karena tepung sagu sendiri tidak memiliki rasa yang kuat, namun, aroma harum dari daun sagu yang dibakar menjadi ciri khasnya.

Subbet dan sagu kapurut masih bertahan hingga saat ini, bahkan makanan ini harus ada di acara-acara seperti pernikahan, dan acara penting lainnya, kalau tidak ada kedua ini akan terasa kurang. "Makan sagu kapurut dengan subbet juga lebih tahan lama dari pada nasi karena kami sudah terbiasa, jadi kalau tidak ada nasi tidak apa-apa, masih ada sagu. Bahkan dulu kalau perempuan Mentawai tidak bisa membuat sagu kapurut tidak boleh menikah, karena dulu tidak ada beras,"ujar nenek Gareta .

Photo
Photo
Proses pembuatan Subbet dan sagu kapurut

Dalam kehidupan sehari-hari, sagu kapurut telah menjadi alternatif yang lebih diandalkan daripada nasi. Keunggulan utamanya terletak pada daya tahannya yang lebih baik, sebab memberikan rasa kenyang yang lebih lama, terutama jika dibandingkan dengan nasi. Sagu juga lebih mudah didapatkan dan dapat bertahan hingga 3 hari setelah pembuatannya. Dalam penyajiannya, sagu kapurut dimakan dengan sup, kuah ikan, atau hidangan lainnya sesuai selera dan kebutuhan.

Kedua hidangan ini menunjukkan betapa kompleksnya pengalaman rasa dan tekstur dalam kuliner Mentawai, di mana bahan-bahan lokal diolah dengan teknik khas untuk menghasilkan hidangan yang unik dan memiliki nilai budaya yang tinggi. Sagu kapurut dan subbet tidak hanya makanan, tetapi juga simbol keberlanjutan warisan budaya yang terus dijunjung tinggi oleh masyarakat Mentawai.

Mentawai dikenal akan kekayaan alam yang melimpah, terutama dari segi bahan pangan lokal. Pisang, ubi kayu, talas, dan sagu menjadi bahan pangan utama masyarakat Mentawai.

Secara geografis, Mentawai memiliki jenis tanah yang didominasi rawa, sehingga pertumbuhan padi akan sulit. Tentu masyarakat Mentawai memiliki pengetahuan berbasis kearifan lokal secara turun temurun dari nenek moyang mereka termasuk cara bercocok tanam dan pengolahan pangan. Kearifan lokal ini menjadi nilai-nilai dalam menjaga keberlanjutan pangan lokal Mentawai.

Desa Saibi Samukop di Kecamatan Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai, menjadi salah satu daerah yang memelihara kearifan lokal dengan menjadikan pangan lokal sebagai aset utama kehidupan sehari-hari. (*) Editor : Tandri Eka Putra
#Desa Saibi Samukop #Subbet #UKM Penalaran Unand #mentawai #Sagu kapurut #Siberut