Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa erupsi Gunung Marapi dapat menyebabkan bahaya dari lontaran material vulkanik berukuran batu, lapili, atau pasir yang dapat menjangkau radius 4,5 km dari pusat erupsi.
Selain itu, abu vulkanik dapat menyebar lebih luas tergantung arah dan kecepatan angin.
Material erupsi yang terendapkan di puncak dan lereng gunung dapat menjadi lahar saat bercampur dengan air hujan.
"Hal ini dapat mengakibatkan banjir lahar di lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi," katanya.
Pada 5 April 2024, banjir lahar terjadi di beberapa sungai di sekitar Gunung Marapi setelah hujan deras.
Banjir lahar ini menyebabkan kerusakan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan, serta menggenangi permukiman warga. Sebanyak 261 warga dari 78 KK terdampak dan 31 jiwa terpaksa mengungsi.
PVMBG telah membagi zona wilayah rawan bencana Gunung Marapi menjadi tiga bagian: Kawasan Rawan Bencana (KRB) I, KRB II, dan KRB III.
KRB I meliputi radius 4,5 km dari kawah dan berpotensi terkena lahar dan hujan abu. Masyarakat di kawasan ini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengungsi jika terjadi hujan lebat lebih dari 1 jam.
Kawasan yang berpotensi terlanda lahar dan perlu waspada terhadap lahar umumnya terletak di dekat lembah atau bagian hilir sungai, sedangkan perluasannya sering terjadi terutama pada belokan-belokan sungal dengan tebing rendah.
Sungai-sungai yang berpotensi terhadap lahar / banjir terutama di sungai-sungai di lereng Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan dan Baratdaya berturut-turut adalah Batang Air Sungai Rimbo Piatu (BA Katik), Batang Air Bonjol (BA Lasi), Batang Air Gadang, Batang Air Sitapu, Batang Air Sereh Silintak dan Batang Air Jabur, Batang Air Anau, Batang Air Mandalliang, Batang Air Bangkahan, Batang Air Sigarunggung, Batang Air Sungai Jambu, Batang Air Sabu, Batang Gadis dan Sungai Talang.
Sementara itu, kawasan yang berpotensi terlanda hujan abu (lebat) dan kemungkinan lontaran batu (pijar) bila terjadi letusan besar adalah meliputi radius 7 km dari pusat kawah.
KRB II meliputi radius 5-10 km dari kawah dan berpotensi terkena awan panas, aliran lava, dan lontaran batu. Masyarakat di kawasan ini diimbau untuk tidak memasuki radius 5 km dari kawah dan selalu mengikuti perkembangan informasi dari PVMBG dan BNPB.
Daerah tersebut yang diperkirakan, untuk bagian utara di sepanjang lembah sungai hingga ke Sungai Pua dan lembah sungai Batang, Air Jambu.
Untuk bagian timur pada lembah-lembah yang dapat mencapai radius 5 km.
Sedangkan ke bagian selatan dan barat daya sepanjang lembah sungai yang dapat mencapai radius 7 km dari pusat erupsi, pada sungai Batang Air Sabu, Batang Gadis, lembah Kandang di Tabik Sungai Talang dan lembah di Batu Panjang.
Pada bagian selatan dan Barat daya terdapat beberapa perkampungan termasuk ujung daerah ini, antara lain : Wansiro, W.N. Sabu, W.N. Balai, Kandang Ditabik, Pauh, Nonggau, Anak Kayu Parak Anau, Kayu Rampak, Mandatar, Ganting Gadang
Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti ontaran batu (pijar), hujan abu lebat. Daerah ini meliputi radius 5 km dari pusat kawah yang umumnya terdiri atas hutan alam dan hutan lindung.
KRB III meliputi radius 3 km dari kawah dan tidak boleh dihuni.
Pada Kawasan Rawan Bencana III tidak diperkenankan untuk hunian tetap dan penggunaan bersifat komersial.
Adapun pernyataan daerah tidak layak huni diputuskan oleh pimpinan Pemerintah Daerah atas rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Kawasan ini meliputi daerah puncak dan sekitarya dengan radius 3 km dari pusat erupsi, termasuk kaldera Bancah, dengan morfologi yang terjal berbatu dan tidak ada hunian, daerah ini mempunyai luas 33,3 km persegi.
Imbau Waspada
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan PVMBG mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, mengikuti perkembangan informasi cuaca dan aktivitas gunungapi, serta mematuhi rekomendasi dari PVMBG dan instansi terkait.
Pemerintah Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Kabupaten Agam diimbau untuk senantiasa berkoordinasi dengan PVMBG, BNPB, BPBD, dan instansi pegiat kebencanaan lainnya.
Di sisi lain, menurut informasi prakiraan cuaca oleh Stasiun Meterologi Minangkabau, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat.
Beberapa jenis bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca tersebut dan dampak dari aktivitas vulkanologi Gunung Api Marapi masih sangat berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Agam, Tanahdatar, Padangpanjang, Padangpariaman, Pasaman Barat, Pariaman, Pesisir Selatan, Payakumbuh, Solok, Solok Selatan, dan Limapuluh Kota.
Sebagai antisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan, Bupati Agam Eka Putra telah menerbitkan surat penetapan status tanggap darurat bencana banjir bandang dan banjir lahar dingin Gunung Api Marapi tertanggal 5 April 2024 sampai 18 April 2024, disusul surat pembentukan posko tanggap darurat untuk periode yang sama.(*)