"Kami sudah berkoordinasi dengan Pemprov dan Pemda serta TNI-Polri untuk mengembalikan keadaan seperti semula, namun ini membutuhkan waktu cukup lama," ungkap Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dalam rapat koordinasi di Posko Utama Bukik Batabuah, Rabu (15/4).
Ia menambahkan pemantauan sumber bencana di Gunung Marapi dan Gunung Singgalang dilakukan menggunakan drone dan helikopter, bekerja sama dengan para ahli dari berbagai bidang terkait mitigasi bencana.
"Bagi masyarakat yang tinggal di daerah berbahaya dan khawatir akan bencana susulan, pemerintah menyiapkan rencana relokasi. Kementerian PUPR telah menyiapkan 200 rumah untuk dibangun kembali," ujar Suharyanto.
Sebagai referensi, relokasi pernah dilakukan saat bencana Gunung Semeru, di mana 2.000 KK berhasil dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Relokasi ini diharapkan dapat meminimalisir korban jiwa di kemudian hari.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan penanganan bencana di Kabupaten Agam dapat berjalan efektif dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan normal secepatnya.
Sementara itu Sekdakab Agam H Edi Busti yang menerima kunjungan sejumlah pejabat tinggi itu menyampaikan bahwa, daerah yang terdampak langsung bencana banjir lahar dingin.
Antara lain; Nagari Bukik Batabuah di Kecamatan Canduang, Nagari Sungai Pua di Kecamatan Sungai Pua, Nagari Koto Tuo di Kecamatan IV Koto, Nagari Kubang Putiah di Kecamatan Banuhampu, Nagari Balai Gurah dan Nagari Batu Taba di Kecamatan Ampek Angkek.
Sekdakab Agam mengungkapkan harapannya agar kunjungan ini memberikan semangat dan penghargaan dari masyarakat atas kepedulian yang ditunjukkan oleh para pemimpin tersebut.
Lantas Edi Busti juga melaporkan korban jiwa akibat bencana ini telah mencapai 22 orang, termasuk satu korban longsor di Kecamatan Palupuh. Saat ini, jumlah pengungsi di Kabupaten Agam mencapai 144 orang.
Hadir dalam Rapat koordinasi yang dipimpin Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto itu; Pangkogabwilhan I Laksamana Madya TNI Agus Hariadi, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Mochammad Hasan, Gubernur Sumbar Mahyeldi, dan Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono.(*/hsn)
Editor : Hendra Efison