Acara ini melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, UPTD Penerangan Jalan Umum, serta Camat dan Lurah se-Kota Padang.
Apel ini menjadi momentum strategis untuk mengoordinasikan berbagai instansi terkait dalam menghadapi libur Nataru, yang bertepatan dengan puncak musim hujan dan libur sekolah.
"Kolaborasi antar instansi diharapkan mampu mengoptimalkan pelayanan dan melindungi masyarakat dari potensi bencana," kata Penjabat Wali Kota Padang, Andree Algamar yang memimpin apel gabungan itu..
Andree mengingatkan bahwa seluruh aparatur pemerintah mendapatkan amanah melalui pajak yang dibayar masyarakat. Untuk itu, pelayanan kepada masyarakat harus diutamakan.
"Kita mendapatkan rezeki melalui pajak yang dibayar masyarakat, dan kita kembalikan dengan memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” tegas Andree.
Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem
Dalam kesempatan itu, Andree juga mengingatkan potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang melanda Kota Padang akhir-akhir ini.
Dengan prediksi curah hujan tinggi dari BMKG pada puncak musim hujan di bulan Desember, risiko bencana seperti banjir dan longsor perlu dimitigasi secara optimal.
“BMKG memprediksi curah hujan lebih tinggi dari biasanya. Kita perlu kesiapsiagaan seluruh TRC Pemko Padang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Andree.
Pj Wali Kota juga menekankan pentingnya pemetaan wilayah rawan bencana dan respons cepat dari setiap satuan kerja jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kita tentu tidak mendoakan bencana terjadi, namun perlu kesiapsiagaan. Jika ada bencana, segera respons. Jangan sampai berjam-jam baru ditangani,” tegasnya.
Untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, Pj Wako mengecek kendaraan operasional dan alat-alat kebencanaan.
Hal itu dilakukan untuk memastikan semua kendaraan operasional seperti kendaran roda dua, roda empat dan alat-alat kebencanaan lainnya berupa chainsaw, perahu dan alat penerangan dalam keadan baik dan tidak ada kendala.
Imbauan BMKG
Sebelumnya, BMKG mengimbau semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak bencana hidrometeorologi musim hujan.
Fenomena yang akan berlangsung bersamaan dengan La Nina Lemah dan berpotensi meningkatkan curah hujan di Indonesia hingga 20-40 persen tersebut diperkirakan akan berlangsung mulai November 2024 hingga Maret atau April 2025.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa La Nina adalah fenomena anomali iklim global yang terjadi akibat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang lebih dingin dari biasanya.
Dampak dari La Nina Lemah dapat mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.(*)
Editor : Heri Sugiarto