PADEK.JAWAPOS.COM-Salah satu persoalan yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun belakangan adalah menekan prevalensi tengkes (stunting).
Paling tidak, hingga tahun 2023, angkanya masih di atas rekomendasi World Health Organization (WHO) yang di bawah 20 persen. Juga jauh dari target nasional yang 14 persen.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) prevalensi stunting Indonesia masih 21,5 persen. Sementara itu di Sumbar 23,6 persen. Angka tersebut turun dari tahun 2022 yang besarnya 25,2 persen.
Dalam periode kepemimpinan Prabowo Subianto saat ini, salah satu upaya menekan angka stunting itu dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sasarannya adalah anak balita, anak usia dini, anak sekolah, ibu menyusui, dan ibu hamil.
Program ini sudah diuji coba dalam beberapa bulan belakang. Tak terkecuali di Sumbar. Dan akan dilaksanakan mulai tahun depan.
Khusus untuk anak-anak usia dini hingga sekolah, Kementerian Pendidikan mencatat, total perserta didik di Sumbar berjumlah 1.160.795 orang. Untuk yang di bawah Kementerian Agama berjumlah 175.867 orang. (Selengkapnya lihat grafis)
Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan, pemerintah pusat pun menetapkan harga nilai satu porsi makanan berkisar dari Rp 7.000 hingga Rp 10.000.
Sebab, dianggap telah bisa memenuhi standar gizi per porsi sebesar 600-700 kalori dengan pemenuhan karbohidrat, protein, yodiun, juga zat besi.
Salah satu daerah di Sumbar yang telah melakukan uji coba adalah Payakumbuh. Yakni dilaksanakan Forum Peduli Gizi Sumbar di SD Negeri 19 Payakumbuh, Kelurahan Sicincin, Payakumbuh Timur, Rabu (13/11).
Menunya ada dua varian. Yakni, Nasi putih, ayam crispy saus asam manis, telur gulai, tempe, sayur capcay ditambah papaya. Porsi lainnya, nasi putih, gulai ayam kurma ditambah tahu, ikan goreng balado, sayur capcay dan jeruk.
Kepala SD Negeri 19 Payakumbuh Darmayeni menilai, menu itu berkisar pada angka di atas Rp 10 ribu per porsi.
Ketua Forum Peduli Gizi Sumbar Muhammad Bayu Vesky mengatakan, menu makanan untuk uji coba itu dibuat dengan memberdayakan anggota forum dari berbagai latar belakang. Di antaranya pelaku UMKM dan ibu-ibu yang ahli memasak.
“Makanan dimasak oleh penyelenggara, Forum Peduli Gizi Sumbar. Sejauh ini (menu sesuai standar gizi) diharga kisaran Rp 10 ribu sudah tercukupi,” sebutnya, Jumat (13/12) lalu.
Di Padang, uji coba yang sama dilakukan Lanud Sutan Sjahrir. Seluruh makanan dimasak dan disiapkan personil Lanud Sutan Sjahrir, Selasa (26/11) lalu.
Program ini menyasar siswa-siswi dari berbagai jenjang pendidikan, seperti TK Angkasa, SD Angkasa, serta ibu hamil dan menyusui di sekitar wilayah Lanud Sutan Sjahrir.
Sebanyak 394 kotak makanan bergizi dibagikan. Masing-masing berisi nasi, sayuran, ayam goreng, buah dan susu.
Diperkirakan, nilai per porsinya sekitar Rp 10.000. Selain memberikan asupan gizi yang baik, kegiatan ini juga memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi bagi tumbuh kembang anak-anak mereka.
Komandan Lanud Sutan Sjahrir, Kolonel Nav Sani Salman Nuryadin menekankan, harga per porsi yang dipatok sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 harus disikapi dengan bijak.
“Apakah angka itu cukup untuk memenuhi standar gizi anak-anak, tergantung pada komponen gizi yang terkandung dalam makanan tersebut,” ujar Jumat (13/12).
Belum Realistis
Melati, salah seorang wali murid yang anaknya bersekolah di SD Angkasa mengungkapkan rasa syukurnya atas adanya program makan bergizi gratis ini. Apalagi anaknya sering kali lupa makan siang karena kesibukan di sekolah.
“Program ini sangat membantu kami sebagai orang tua untuk memastikan anak mendapatkan gizi yang cukup,” katanya.
Namun, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait harga porsi makanan yang dipatok Rp 7.000 hingga Rp 10.000. Menurutnya, angka tersebut belum sepenuhnya realistis untuk memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang.
Ia pun mengusulkan agar harga per porsi bisa lebih tinggi, sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000, agar makanan yang disediakan bisa lebih beragam dan seimbang, dengan tambahan lauk yang kaya protein, sayuran dan buah-buahan.
Apresiasi sekaligus kekhawatiran yang sama tentang program MBG dengan nilai per porsi yang ditetapkan pemerintah itu juga diungkapkan Nurmanita, 42, seorang pekerja kantoran yang anaknya bersekolah di SMP 31 Andalas, Padang.
Dia memandang program ini sebagai langkah positif. Namun, ia menilai anggaran yang dialokasikan terlalu kecil untuk mencakup kebutuhan gizi seimbang.
“Di pasar saja, harga bahan makanan sudah naik. Dengan Rp 7.000 atau Rp 10.000, saya rasa sulit menyediakan makanan bergizi lengkap. Paling hanya cukup untuk nasi dan lauk sederhana,” ujarnya.
Nurmanita menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan kenaikan anggaran atau bekerja sama dengan pihak swasta.
“Kalau ingin efisien, mungkin pemerintah bisa menggandeng koperasi sekolah atau pengusaha katering yang sudah punya pengalaman. Mereka bisa menyuplai makanan dengan harga terjangkau tanpa mengorbankan kualitas,” jelasnya.
Padang Piloting Project MBG
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Yopi Krislova mengatakan implementasi program makan siang bergizi gratis untuk siswa di Kota Padang masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak) dari pemerintah pusat, dalam hal ini Badan Gizi Nasional.
“Jadi kapan program ini dimulai, siapa yang melaksanakan, seperti apa modelnya, saya belum bisa menjawab. Karena aturannya belum ada dari pusat, termasuk anggarannya,” ujar Yopi.
Namun, sebutnya, Badan Gizi Nasional sudah datang berkoordinasi untuk membicarakan program ini. “Kemungkinan Kota Padang sebagai piloting project makan siang bergizi gratis di Indonesia,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini jumlah siswa SD dan SMP baik negeri/swasta di Kota Padang berjumlah sekitar 155.000 siswa. Kemudian TK dan PAUD sekitar 13.000 orang.
“Kami siap mendukung program ini, namun kami masih menunggu rincian teknis yang jelas dari Badan Gizi Nasional. Jika sudah ada, kita akan beri tahu rekan-rekan media,” tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar Barlius mengatakan pelaksanaan program MBG dilaksanakan pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional.
Berdasarkan informasi yang ia dapati untuk kegiatan tersebut direncanakan akan diselenggarakan pada bulan Januari 2025 dengan target awal 16 sekolah yang terdiri dari SD hingga SMA.
“Semuanya dilaksanakan Badan Gizi Nasional. Kami belum mengetahui nama-nama sekolah yang akan ikut serta. Namun informasinya untuk memasaknya akan dibantu oleh TNI,” ucapnya, kemarin. (cip/fdl/shy/cr1/eri/wni)
Editor : Novitri Selvia