Para peserta mengenakan kostum tradisional dan membawa alat musik serta bendera. Menempuh jalan ibukota Provinsi Sumatera Barat dari Gedung HBT menuju Batang Arau, Jl Nipah, Tepi Laut Jl Samudera, GOR Prayoga, Jl Gereja, Jl Pondok, Jl Niaga dan kembali ke Gedung HBT.
Acara yang digelar oleh Himpunan Bersatu Teguh (HBT) itu memang digelar dalam rangka HUT ke-148 HBT. Pelaksanaan ini banyak disaksikan masyarakat sekitar, dan wisatawan.
Ketua Umum HBT Sumbar Riau Andreas Sofiandi mengatakan tradisi sipasan sendiri merupakan sebuah tradisi masyarakat tionghoa Kota Padang yang hanya dilaksanakan dalam momen tertentu.
“Dan tradisi serupa ini hanya diselenggarakan di Kota Padang, tidak ada di daerah manapun di Indonesia maupun di mancanegara. Tradisi sipasan ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda di kawasan Kota Padang,” ujarnya.
Ia juga mengatakan dinamai sipasan karena seperti yang diketahui sipasan merupakan bahasa daerah (Minang) dari lipan, sejenis binatang yang bergerak dengan kaki yang banyak. Gambaran tersebut seperti masyarakat yang bersama-sama dalam menggotong sipasan sebagai simbol kebersamaan dan kekompakan untuk dapat berjalan bersama mencapai tujuan.
“Untuk kali ini kita membuka 40 lebih papan, di mana dalam arak-arakannya dinaiki 70 orang anak. Kemudian untuk membawa arak-arakan sipasan ini sendiri kita membutuhkan kurang lebih 700 orang,” ungkapnya.
Sementara itu PJ Wali Kota Padang Andree Algamar mengatakan pelaksanaan kegiatan ini merupakan salah kegiatan yang masuk event pariwisata Kota Padang.
Ia mengatakan Pemko Padang tentunya mensupport kegiatan serupa dalam upaya melestarikan kebudayaan dan juga meningkatkan kunjungan wisatawan.
Sementara itu Meta wisatawan asal Jakarta yang datang menyaksikan kegiatan sipasan menyatakan antusiasnya.
"Sangat menarik acaranya, baru kali ini saya menyaksikannya. Kegiatan ini bentuk pelestarian kebudayaan etnis yang ada di tengah perkembangan zaman. Kita harap dapat terus terlaksana ke depannya," ucapnya. (yud)
Editor : Hendra Efison