“Bahasa daerah adalah salah satu identitas lokal. Saat ini, banyak bahasa daerah yang punah, termasuk bahasa Minang yang berstatus sangat terancam,” ujar Firdaus Abie.
Ia menegaskan, perlu ada langkah nyata untuk menahan laju kepunahan bahasa daerah. Saat ini, banyak kosa kata Minang yang sudah tidak lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Ancaman Kepunahan Bahasa Minang
Firdaus Abie mengungkapkan, menurut data UNESCO, lebih dari 2.500 bahasa di dunia telah punah, 100 di antaranya berasal dari Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir, lebih dari 200 bahasa telah hilang, sementara 607 bahasa lainnya berstatus tidak aman.
Ia juga mengutip Prof. Hasanuddin, mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand), yang menyebutkan bahwa bahasa Minang masuk dalam kategori “Sangat Terancam”.
Menurutnya, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kepunahan bahasa, di antaranya berkurangnya penutur, bencana besar, perang, serta globalisasi. Banyak keluarga muda yang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Tak sedikit yang menganggap bahasa daerah terkesan kuno, sehingga penggunaannya semakin berkurang dan kosa katanya perlahan menghilang.
Langkah Konkret Pelestarian Bahasa
Sebagai solusi, Firdaus Abie menekankan pentingnya kebijakan pemerintah dan institusi pendidikan dalam melestarikan bahasa daerah.
Beberapa daerah di Sumatera Barat telah mulai memberikan perhatian dengan memasukkan muatan lokal bahasa daerah dalam kurikulum sekolah.
Ia juga mengusulkan agar penggunaan bahasa daerah “dipaksakan” dalam beberapa aspek kehidupan, seperti halnya penerapan larangan merokok di ruang publik. Awalnya sulit, tetapi seiring waktu akan menjadi kebiasaan.
“Ketika belum bisa dimasukkan dalam kurikulum, bisa dijadikan ekstrakurikuler wajib atau ada hari tertentu yang diwajibkan menggunakan bahasa daerah. Walaupun masih terbata-bata, lama-lama akan terbiasa,” ujar Firdaus Abie.
Bincang Sore Ramadan merupakan program rutin RBAN yang digelar setiap hari selama bulan suci. Tahun ini, program tersebut telah memasuki tahun kelima dengan berbagai tema seputar pengembangan literasi, pengelolaan rumah baca, dan pembinaan anak usia dini.
Dengan langkah nyata, Firdaus Abie berharap bahasa Minang dapat terus terjaga dan tidak mengalami kepunahan seperti banyak bahasa daerah lainnya di Indonesia.(*)
Editor : Hendra Efison