Fenomena ini terjadi ketika warga Sumbar yang berlebaran di ibukota, berencana melakukan perjalanan ke kampung halaman.
Berdasarkan pemantauan pada Minggu (6/4/2025) pukul 22.10 WIB di platform pemesanan tiket daring Traveloka, untuk jadwal penerbangan Senin (7/4/2025) hanya tersedia layanan dari maskapai Garuda Indonesia untuk rute Jakarta (CGK) ke Padang (PDG).
Adapun rincian harga tiket tersebut yakni:
- Garuda Indonesia (14.40 WIB-16.30 WIB): Rp4.105.700
- Garuda Indonesia (19.25 WIB-21.15 WIB): Rp4.170.000
- Garuda Indonesia (09.25 WIB-11.15 WIB): Rp6.462.500
Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi rute Padang-Jakarta yang diperuntukkan bagi perantau yang hendak kembali ke ibukota, di mana harga tiket mencapai angka fantastis hingga Rp10 juta.
Namun demikian, terdapat penurunan signifikan untuk jadwal penerbangan pada Selasa (8/4/2025) dengan harga kembali normal di kisaran Rp1,3 juta hingga Rp4,4 juta.
Pada hari tersebut tersedia 29 jadwal penerbangan dari beragam maskapai seperti Pelita Air, Super Air Jet, Citilink, Garuda Indonesia, Air Asia, dan Batik Air.
Sementara itu, pantauan pada platform Tiket.com menunjukkan kondisi serupa. Untuk penerbangan Senin (7/4/2025), hanya tersedia satu jadwal penerbangan yaitu dari maskapai Super Air Jet pada pukul 06.00 WIB-07.45 WIB dengan harga Rp1.392.410.
Memasuki Selasa (8/4/2025), Tiket.com mencatat adanya 20 jadwal penerbangan dengan rentang harga mulai dari Rp1,2 juta hingga Rp3 juta. Layanan tersebut disediakan oleh berbagai maskapai meliputi Pelita Air, Super Air Jet, Citilink, Garuda Indonesia, dan Batik Air.
Fenomena kenaikan harga tiket pesawat pada masa arus balik lebaran ini menggambarkan dinamika permintaan dan ketersediaan kursi penerbangan yang terbatas, terutama untuk destinasi populer seperti Padang yang merupakan kampung halaman bagi banyak perantau di Jakarta.
Para calon penumpang yang berencana melakukan perjalanan Jakarta-Padang disarankan untuk mempertimbangkan jadwal penerbangan pada hari-hari berikutnya ketika harga telah kembali normal, atau mencari alternatif moda transportasi lain jika memungkinkan. (*)
Editor : Hendra Efison