Menurut laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tinggi kolom abu letusan teramati mencapai ±800 meter di atas puncak atau sekitar 3.691 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu pekat ini terlihat jelas dengan arah sebaran condong ke utara.
Erupsi Gunung Marapi kali ini terekam kuat melalui seismograf, dengan amplitudo maksimum mencapai 30.9 mm dan durasi gempa vulkanik selama 40 detik.
Data ini menunjukkan adanya tekanan tinggi dalam sistem vulkanik Marapi dan mengindikasikan erupsi dengan kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Larangan Aktivitas di Radius 3 KM dan Waspada Lahar
Menyikapi kejadian ini, PVMBG mengeluarkan serangkaian rekomendasi penting, termasuk:
- Larangan total terhadap aktivitas pendakian, kunjungan wisata, atau aktivitas lain dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah Verbeek.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, bantaran sungai, dan daerah aliran sungai berhulu di Marapi diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar – terutama di musim hujan, saat material vulkanik berisiko terbawa air hujan dan memicu banjir lahar.
Antisipasi Hujan Abu: Gunakan Masker dan Jaga Kesehatan
PVMBG juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap hujan abu, terutama bagi masyarakat yang tinggal di arah sebaran angin. Masyarakat diminta:
- Menggunakan masker atau penutup mulut dan hidung
- Menghindari aktivitas luar ruang jika tidak diperlukan
- Menjaga kebersihan air dan makanan
- Menghindari gangguan pernapasan dan risiko ISPA akibat partikel halus dari abu vulkanik
Imbauan Anti Hoaks dan Pentingnya Koordinasi Wilayah
PVMBG juga mengingatkan seluruh masyarakat untuk tidak menyebarkan hoaks atau informasi yang tidak dapat diverifikasi. Hanya informasi dari sumber resmi seperti PVMBG, Pos Pengamatan Gunung Marapi, atau Pemerintah Daerah setempat yang patut dipercaya.
Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam diimbau untuk terus melakukan koordinasi aktif dengan PVMBG di Bandung maupun dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi di Bukittinggi (Jalan Prof. Hazairin No. 168). Hal ini penting guna memastikan langkah-langkah mitigasi yang cepat dan tepat.
Gunung Marapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Pulau Sumatera. Sejarah letusannya menunjukkan pola aktivitas yang fluktuatif dan kadang mengejutkan. Karena itu, kesadaran mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat sangat penting.(*)
Editor : Hendra Efison