Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari sejumlah UNESCO Global Geopark (UGGp) dan Geopark Nasional dari dalam maupun luar negeri.
Partisipasi Geopark Sianok Maninjau dalam forum internasional ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring kerja sama menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Dalam forum ini, dilakukan penjajakan dan penguatan kolaborasi dengan beberapa UGGp di Indonesia.
“Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk memperluas jaringan Geopark Sianok Maninjau dan memperkaya pengalaman dalam pengelolaan geopark, agar dapat memenuhi standar internasional UNESCO,” ujar Zuhrizul.
Dalam kesempatan tersebut, Zuhrizul menyampaikan bahwa Sumatera Barat memiliki potensi besar dalam hal kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya yang masih terjaga.
Ia menyebut bahwa kekayaan ini merupakan modal kuat untuk mengembangkan wisata tematik yang berdampak langsung terhadap ekonomi lokal dan promosi internasional.
“Sumbar memiliki peluang besar untuk berkiprah lebih luas di ajang internasional dan mempromosikan kekayaan alam dan budayanya,” ucap Zuhrizul yang juga terlibat dalam penyusunan visi-misi Gubernur Sumbar Mahyeldi dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy periode 2025–2029.
Konferensi Internasional Geopark ini bagian dari rangkaian Geofest ke-6 yang berlangsung di Kebumen. Acara ini menghadirkan pembicara kelas dunia seperti Prof (Em. UKM) Dato' Ibrahim Kamoo, Ph.D, FASC, FIGM dari Malaysia, Dr Soojae Lee dari Korea Selatan, dan Dr Jaruwan Daengbuppha dari Thailand.
Selain konferensi, rangkaian Geofest juga mencakup lokakarya, festival dan ekspo geowisata, serta field trip yang mengajak peserta menjelajahi keindahan geologi wilayah Kebumen.
Sebelum pembukaan, digelar Workshop Pengembangan Geopark & Geowisata di Trio Azana Style Hotel, Kebumen.
Lokakarya ini diselenggarakan oleh Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI) dengan tujuan meningkatkan kapasitas pengelola geopark, akademisi, dan pemangku kepentingan dalam pengembangan geopark berkelanjutan.
Para narasumber dalam workshop ini antara lain,.Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D. (Ketua Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia), Aries Kusworo, ST, MT (Evaluator Geopark Nasional), Abdillah Baraas, ST, MT (Manajer Umum UGGp Ijen), dan Iben Yuzenho, SP, MBA, M.Sc. (CEO Sebumi-Sejiwa).
Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman tentang prosedur aplikasi, evaluasi, dan revalidasi UGGp, penyusunan dokumen penilaian mandiri, strategi branding destinasi geowisata, serta pengembangan rute dan interpretasi geologi.
Di sela konferensi ini, Zuhrizul sempat diskusi dengan Direktur Pembangunan Daerah Kementerian PPN/Bappenas, Togu Pardede.
Togu mengapresiasi keikutsertaan Geopark Nasional Sianok Maninjau untuk mendapatkan pengakuan warisan dunia UNESCO.
Ia menegaskan bahwa pengakuan geopark didasarkan pada tiga unsur utama: geodiversity, biodiversity, dan culture.
“Ada tiga hal yang harus dilakukan: konservasi, pengembangan ekonomi, dan edukasi. Edukasi adalah keunggulan utama kita sebagai taman bumi. Ini harus dipelihara agar status UGGp tidak terancam,” ujar Togu, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian alam, pembangunan ekonomi, dan pendidikan.
Selain itu, kata Togu, dukungan yang kuat dari pemerintah provinsi, kabupaten dan kota serta stakeholder terkait.
"Saya yakin Geopark Nasional Sianok Maninjau memiliki potensi warisan geologi luar biasa untuk diakui oleh UNESCO. Mohon dukungan dan aksi-aksi untuk menuju ke sana, terutama kolaborasi pemerintah daerah dan pusat," katanya.(*)
Editor : Heri Sugiarto