Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kebutuhan Jagung Capai 2,4 Juta Ton, Mahasiswa Diajak Ambil Peluang di Sektor Pertanian

Willian. • Jumat, 19 September 2025 | 11:50 WIB

Gubernur Sumbar, Mahyeldi menandatangani MoU dalam acara AgriYouth Talks bertema “Investasi Masa Depan: Pertanian dan Finansial untuk Generasi Muda” di Auditorium Gubernuran, Kamis (18/9).
Gubernur Sumbar, Mahyeldi menandatangani MoU dalam acara AgriYouth Talks bertema “Investasi Masa Depan: Pertanian dan Finansial untuk Generasi Muda” di Auditorium Gubernuran, Kamis (18/9).
PADEK.JAWAPOS.COM—Upaya membangun sektor pertanian modern di Sumatera Barat (Sumbar) mendapat dorongan baru melalui kegiatan AgriYouth Talks bertema “Investasi Masa Depan: Pertanian dan Finansial untuk Generasi Muda”.

Acara ini digelar di Auditorium Gubernuran, Kamis (18/9) dan dihadiri ratusan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi besar di Sumbar, yaitu Universitas Andalas, Universitas Taman Siswa, dan Universitas Ekasakti.

Kegiatan ini diinisiasi oleh PT Mekar Agrifin Teknologi (Paten Mekar Tani), yang menggandeng Pemerintah Provinsi Sumbar serta tiga universitas tersebut. Melalui forum ini, mahasiswa diajak terlibat langsung dalam pengembangan pertanian modern yang mengedepankan teknologi, inovasi, serta literasi finansial.

Gubernur Sumbar Mahyeldi, dalam sambutannya mengatakan bahwa pertanian merupakan sektor strategis yang menjanjikan karena kebutuhan pangan selalu meningkat. Ia menekankan bahwa mahasiswa pertanian harus memandang kondisi ini sebagai peluang besar menuju kesuksesan.

“Kebutuhan jagung Sumbar per tahun mencapai 2,4 juta ton. Namun, produksi lokal baru mampu memenuhi 40 persen. Kekurangannya dipasok dari luar daerah. Ini peluang besar,” ujar Mahyeldi.

Selain jagung, Mahyeldi menyebut komoditas ekspor unggulan Sumbar seperti gambir dan manggis juga memiliki potensi besar. Sumbar bahkan mampu menyuplai 80 persen kebutuhan gambir dunia. Namun, komoditas tersebut masih diekspor dalam bentuk mentah.

“Di luar negeri, gambir diolah menjadi bahan campuran industri makanan, minuman, kesehatan, hingga kosmetik. Kita butuh hilirisasi agar nilai tambah tetap di daerah,” ucapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi lahan tidur untuk mendongkrak produksi pertanian, serta menyampaikan apresiasi kepada PT Mekar Agrifin Teknologi atas inisiatifnya menyelenggarakan forum ini bersama mitra dan pemerintah.

“Kita butuh generasi muda yang cerdas, menguasai literasi finansial dan digitalisasi, serta mampu mengelola usaha. Youth Agripreneurs adalah kunci menciptakan pertanian berdaya saing dan mendukung ketahanan pangan nasional,” tegas Mahyeldi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, produksi jagung Sumbar mencapai 742.492 ton dengan luas panen sekitar 83.918 hektare dan produktivitas rata-rata 61,76 kuintal/hektare. Namun, angka ini masih jauh dari kebutuhan daerah yang mencapai ±2,4 juta ton/tahun.

Sumbar juga telah mencetak sejumlah Duta Petani Milenial dan Andalan, yang sukses mengembangkan berbagai komoditas unggulan seperti kopi Solok Radjo (Solok), pertanian organik (Bukit Gompong), hidroponik (Padang), dan alpukat (Baso-Agam). Ini membuktikan bahwa generasi muda bisa menjadi agen perubahan di sektor pertanian.

Mahyeldi mengajak mahasiswa untuk tidak ragu menekuni bidang pertanian sebagai jalan wirausaha. “Kalau ingin kaya, jadilah wirausaha di sektor pertanian. Jangan melulu bermimpi jadi pegawai,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri. Melalui forum ini, diharapkan lahir lebih banyak Youth Agripreneurs dari Sumbar yang mampu membawa harum nama daerah di tingkat nasional dan internasional, serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam percaturan pangan global.

Sementara itu, Direktur Utama Paten Mekar Tani, Ari Irpendi, menyatakan bahwa AgriYouth Talks bukan sekadar forum edukatif. Program ini juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mengikuti magang langsung selama satu musim tanam atau enam bulan di lahan pertanian modern yang mereka kelola.

“Kami sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemprov Sumbar dan tiga universitas. Mahasiswa akan diarahkan untuk praktik kerja lapangan di lahan kami,” katanya.

Saat ini, Paten Mekar Tani mengelola 250 hektare lahan jagung di Kabupaten Padang Pariaman. Seluruh proses mulai dari pengolahan lahan, tanam, perawatan hingga panen, dilakukan dengan teknologi modern.

“Kami ingin memantik semangat mahasiswa menjadi agripreneur. Selama ini wirausaha banyak di sektor kuliner atau pariwisata, padahal pertanian sangat menjanjikan,” tambah Ari.

CEO PT Mekar Investama Teknologi, Pandu Aditya Kristy, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga bertujuan membangun ekosistem pertanian modern yang terintegrasi, meliputi pengembangan SDM, pengelolaan lahan, dan akses pembiayaan.

“Sumber daya manusia disiapkan lewat perguruan tinggi dan Polri. Lahan tidur masyarakat yang didata pemda akan dioptimalkan. Permodalan disiapkan lewat kerja sama dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan FiO untuk mendukung modernisasi alat pertanian,” jelas Pandu.

Ia juga menyebut bahwa pada Juli lalu, pihaknya telah memulai pengelolaan ±300 hektare lahan tidur di Lubukalung yang sebelumnya tidak digarap selama 35 tahun. Saat ini, lahan tersebut mulai ditanami jagung.

“Ke depan, program ini akan diperluas ke wilayah lain di Sumatera Barat. Ini momentum penting menuju swasembada pangan daerah,” pungkas Pandu. (wni)

Editor : Adetio Purtama
#sektor pertanian #mahasiswa #jagung #sumbar #peluang