Meskipun sebagian besar korban telah diperbolehkan pulang, sebanyak 31 siswa masih menjalani perawatan medis intensif. Penanganan dilakukan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas, dengan fokus pada empat fasilitas kesehatan berbeda.
Rinciannya, 24 orang dirawat di RSUD Lubukbasung, 3 orang di RSIA Rizki Bunda, 3 orang di Puskesmas Lubuk Basung, dan 1 orang di Puskesmas Manggopoh.
Baca Juga: Dipicu Bakteri, Virus, dan Bahan Kimia
Data Perkembangan Korban Hingga Siang Hari
Hingga Kamis siang, perkembangan data penanganan korban keracunan MBG di Kabupaten Agam sebagai berikut:
-
Puskesmas Manggopoh: Total 11 orang terdata, dengan 3 orang masih dalam observasi dan 8 orang telah dipulangkan.
-
RSUD Lubukbasung: Total 13 orang terdata, 9 orang masih dalam observasi dan 4 orang sudah dipulangkan.
-
RSIA Rizki Bunda: Tiga orang pasien masih menjalani perawatan.
-
Puskesmas Lubuk Basung: Tiga orang pasien masih menjalani perawatan.
Bupati Agam, Benni Warlis, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa ratusan warga ini. Ia memastikan Pemerintah Kabupaten Agam bergerak cepat untuk memberikan penanganan medis terbaik.
“Kami sangat prihatin atas kejadian ini. Saat ini terdapat 31 anak yang masih menjalani perawatan di rumah sakit dan puskesmas,” ujar Benni Warlis, Kamis (2/10/2025).
Ia menegaskan telah menginstruksikan Dinas Kesehatan agar memberikan penanganan medis secara optimal sehingga seluruh korban dapat segera pulih.
Baca Juga: Kalah Beruntun, Eksperimen Bek Kanan Dipertanyakan
Uji Laboratorium BPOM
Selain fokus pada penanganan medis, Pemkab Agam juga menempuh langkah investigasi. Dinas Kesehatan telah mengambil sampel sisa makanan serta sampel simpanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Saat ini sampel tersebut tengah diuji di laboratorium BPOM untuk mengetahui secara pasti penyebab dugaan keracunan MBG ini,” tegas Benni Warlis.
Pemerintah Kabupaten Agam juga melakukan pendataan korban secara rinci berdasarkan asal sekolah. Langkah ini ditempuh agar semua korban tercatat dengan baik dan mendapat perawatan sesuai standar yang berlaku.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Agam mengisyaratkan adanya peninjauan ulang terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan. Menurutnya, evaluasi prosedur menjadi penting pasca-insiden yang membuat jumlah korban terindikasi keracunan bertambah signifikan.(*)
Editor : Hendra Efison