Di antara tumpukan sepatu yang menunggu disol, pria berusia 50 tahun itu duduk bersila di atas alas sederhana.
Wajahnya yang legam terbakar matahari menyiratkan kelelahan, tetapi di matanya tersimpan semangat yang tak padam—semangat untuk bertahan hidup.
Andrizal, atau akrab disapa Andi Lala, hidup sebatang kara di Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur.
Sehari-hari, ia berkeliling kota menjadi tukang sol sepatu keliling. “Saya tidak punya siapa-siapa di rumah. Tapi kalau hanya duduk diam, siapa yang mau memberi makan?” ujarnya lirih, Jumat (31/10/2025).
Lahir dan besar di Padang, Andi Lala sejatinya berasal dari Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kabupaten Solok. Pendidikan formalnya berhenti di kelas dua SMA Dr. H. Abdullah Ahmad PGAI Padang.
Namun, sejak kecil, hidup telah mengajarinya arti kerja keras. “Saya sudah biasa jualan sejak SD. Mulai dari jual es, plastik, sampai topi runcing waktu tahun baru,” kenangnya sambil tersenyum tipis.
Lebih dari dua dekade lamanya, Andi Lala dikenal sebagai penjual mainan di Pasar Raya Padang. Namun, setelah kondisi ekonomi makin sulit, ia beralih profesi menjadi tukang sol sepatu dalam lima bulan terakhir.
Di sela waktunya, ia juga menjadi pengepul barang bekas yang dijual kembali ke kawasan Pondok.
Awalnya, ia mangkal di dekat Toko Kopi Pablo, di samping PT Telkom Akses Padang. Namun, kerap kali ia harus berpindah tempat karena razia dari Satpol PP. Mobilitas itu bukan hal baru baginya.
Dahulu, saat masih berdagang, ia bahkan menjajakan dagangan hingga ke luar kota—dari Bukittinggi, Pasaman, sampai Payakumbuh—mengikuti acara keramaian seperti pacu kuda dan motor cross.
Kini, penghasilannya dari sol sepatu tidak menentu. Kadang sehari bisa membawa pulang Rp40.000 hingga Rp50.000, kadang tak sepeser pun. Namun, ia tidak pernah mematok harga.
“Berapa pun dikasih pelanggan, saya terima. Yang penting bisa untuk makan,” katanya dengan nada tegar.
Meski pekerjaannya sederhana, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Ada pelanggan yang menitipkan sepatu tapi tak pernah datang mengambilnya.
Bahkan, lebih menyakitkan, ia pernah mendapati kotoran kucing dan anjing diletakkan di tempatnya bekerja oleh orang yang tidak senang melihat keberadaannya. Namun, Andi Lala tidak menyerah. Ia hanya berharap bisa terus mencari rezeki tanpa gangguan.
“Harapan saya kepada pemerintah, tolong jangan diusik saat kami mencari nafkah. Kalau pun dilarang, tolong berikan solusi yang jelas bagi kami untuk tetap bisa bekerja,” pintanya.
Di tengah hiruk pikuk kota, kisah Andi Lala menjadi potret keteguhan masyarakat kecil yang berjuang dalam diam. Di antara debu jalanan dan aroma lem sepatu, ia menjahit lebih dari sekadar alas kaki—ia menjahit harapan agar hidupnya tetap utuh.(cr3)
Editor : Hendra Efison