Konferensi mempertemukan lembaga negara, pakar syariah, dan pengelola wakaf global untuk merumuskan model pengembangan aset wakaf yang lebih produktif, profesional, dan berkelanjutan.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyampaikan bahwa Sumbar memiliki sejarah panjang dalam tradisi wakaf serta pendidikan Islam. Sejumlah masjid, pesantren, dan lembaga pendidikan di daerah itu berdiri di atas tanah wakaf, menjadikan Sumbar salah satu pusat pergerakan wakaf tertua di Indonesia.
“Konferensi wakaf internasional ini diharapkan membuka kolaborasi baru, terutama dalam mendorong pengelolaan wakaf yang lebih profesional, transparan, dan adaptif terhadap kebutuhan ekonomi modern,” ujar Mahyeldi dalam gala dinner penyambutan peserta, Jumat malam (14/11/2025).
Gala dinner dihadiri Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua BWI Kamaruddin Amin, Ketua Baznas RI Noor Achmad, Pimpinan PM Gontor KH. Hasan Abdullah Sahal, serta delegasi dari sejumlah negara Timur Tengah. Jajaran Forkopimda, DPRD Sumbar, dan kepala OPD Pemprov juga ikut hadir.
Potensi Wakaf Indonesia Baru 0,17 Persen Tergarap
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, menyoroti besarnya potensi wakaf nasional. Kajian Badan Wakaf Indonesia (BWI) memperkirakan potensi ekonomi wakaf Indonesia mencapai Rp2.000 triliun per tahun.
Namun nilai wakaf yang berhasil dikelola baru sekitar Rp3,5 triliun, atau sekitar 0,17 persen dari keseluruhan potensi.
Menurut Hidayat, pemanfaatan wakaf produktif memerlukan dukungan tata kelola yang lebih inovatif dan terbuka terhadap kerja sama internasional.
“Kerja sama dengan dunia internasional dapat membuka peluang besar bagi penguatan wakaf nasional,” ujarnya.
Kolaborasi Global
Pembahasan dalam konferensi menegaskan bahwa penguatan ekosistem wakaf tidak dapat dilakukan secara terpisah.
Negara-negara yang memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan wakaf dinilai dapat menjadi mitra strategis untuk mendorong modernisasi tata kelola wakaf Indonesia.
Hidayat menilai forum ini berpotensi menghadirkan solusi sistemik terhadap sejumlah tantangan ekonomi umat, termasuk pembiayaan pendidikan, penurunan angka kemiskinan, serta pengembangan lembaga sosial berbasis syariah.
Model Al-Azhar sebagai Rujukan
Pakar wakaf dari Mesir, Dr. Moustafa Desouky Kasba, menyebut Sumbar memiliki modal kuat untuk mengembangkan wakaf modern karena tradisi pendidikan Islam yang mengakar serta besarnya aset sosial berbasis wakaf.
Ia mendorong peningkatan kerja sama internasional melalui transfer pengetahuan dan implementasi model pengelolaan yang terbukti berhasil di negara Arab.
Dr. Moustafa mencontohkan tata kelola wakaf Al-Azhar di Mesir yang telah berjalan ratusan tahun dengan sistem administrasi terstandar dan fokus pada keberlanjutan manfaat.
“Wakaf adalah kekuatan sosial dan ekonomi jangka panjang. Kami siap berbagi pengalaman untuk pengelolaan yang aman, produktif, dan sesuai tuntunan syariah,” ujarnya.(*)
Editor : Hendra Efison