Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pemanfaatan Interactive Flat Panel di Sekolah Sumbar Meningkat, Guru Nilai Pembelajaran Lebih Interaktif

ZikriNiati ZN • Rabu, 19 November 2025 | 13:01 WIB

PEMANFAATAN TEKNOLOGI: Satu kelas di SDN 58 Lubukbuaya, Padang, menggunakan interactive flat panel pada proses pembelajaran piktogram, kemarin.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI: Satu kelas di SDN 58 Lubukbuaya, Padang, menggunakan interactive flat panel pada proses pembelajaran piktogram, kemarin.

PADEK.JAWAPOS.COM-Sejumlah sekolah di Sumbar telah memanfaatkan interactive flat panel (IFP) dalam proses belajar mengajar (PBM).

Penggunaan panel interaktif digital itu mendapat sambutan baik, namun juga memunculkan sejumlah catatan untuk hasil yang lebih baik.

Darniyanti, misalnya. Salah satu fitur yang ia manfaatkan adalah video pembalajaran. Guru Pendidikan Agama Islam di SDN 11 Lubukbuaya Padang ini menilai, video pembelajaran tersebut dapat menarik perhatian anak-anak didiknya. Sehingga bisa lebih fokus.

”Setelah menonton video pembelajaran tersebut, saya memberikan penguatan materi kembali kepada para siswa dalam bentuk tatap muka langsung,” ucapnya ke Padang Ekspres, Selasa (18/11).

Meskipun demikian, ia berharap ada sosialiasi lebih lanjut untuk pemanfaatan IFP ini. Agar, bisa lebih efektif. Karena, masih ada beberapa guru yang belum dapat memaksimalkan seluruh fitur-fitur yang tersedia pada papan interaktif.

Kepala Sekolah SDN 11 Lubukbuaya Padang Nurhasanah menyampaikan, para siswanya telihat antusias dengan kehadiran IFP ini. Terutama pada kegiatan yang melibatkan partisipasi para murid dalam penggunaan smart TV tersebut.

”Anak-anak senang, apalagi kalau kita memberikan tugas yang meminta mereka berpatisipasi. Entah itu menulis atau yang lainnya. Mungkin karena rasa ingin tahu, bagaimana sih rasanya menulis di TV,” tuturnya.

Sejauh ini, sekolah yang ia pimpin baru mendapatkan satu unit IFP. Sementara, dengan 639 murid sekolah itu memiliki 24 rombongan belajar.

Dalam pemanfaatannya, siswa yang kerap menggunakan IFP dari kelas 4, 5, dan 6. Karena menyesuaikan dengan kebutuhan guru yang mengajar di kelas.

”Penggunaan IFP belum diwajib. Tergantung kebutuhan guru. Kalau merasa butuh, para guru melapor ke penanggung jawab peralatan, mau dipakai pukul berapa,” ujarnya.

Ini, terang dia, untuk menghindari jadwal penggunaan yang bentrok. Namun apabila terjadi bentrok, bergantung pada kondisi materi yang diajarkan.

Jika sama, para siswa akan digabungkan untuk memanfaatkan panel tersebut. Apabila berbeda maka akan ada rombongan belajar yang harus mengalah dan belajar seperti biasanya.

Terpisah, SDN 01 Pauh baru saja menerima perangkat IFP tersebut Senin (17/11) lalu. Sesuai rencana, perangkat tersebut langsung diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) kemarin.

Syafriyanto, guru agama di sekolah itu telah menggunakannya saat mengajar murid kelas 2. Anak-anak, ungkap dia, sangat interaktif dalam belajar menggunakan smartboard tersebut.

“Ada rasa penasaran dan semangat baru yang terpancar,” sebutnya. Namun, Syafriyanto mempunyai catatan awal dari implementasi alat ini.

“Karena ini perdana, masih banyak yang harus dikondisikan terkait materi dan metodologi pembelajaran. Tantangan utamanya adalah keterbatasan unit, di mana hanya tersedia satu perangkat. Murid-murid harus bergantian menggunakannya, yang menuntut manajemen kelas dan waktu yang lebih kreatif dari guru,” jelasnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang belum dapat memastikan jumlah unit IFP yang sudah diterima sekolah-sekolah di Kota Padang.

Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova menjelaskan, papan interaktif digital itu disalurkan langsung oleh pemerintah pusat melalui tautan (link) yang disediakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Setiap satuan pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga SMA, mengisi data secara mandiri pada tautan tersebut.

“Berapa total unit dan sekolah yang sudah menerima papan interaktif digital ini belum kami rekap, karena datanya masih bergerak. Besok (hari ini, red) kami akan meminta data lengkapnya ke masing-masing sekolah,” ujar Yopi, kemarin.

Terkait kesiapan guru dalam pemanfaatan perangkat tersebut, Yopi memastikan para pendidik pada umumnya sudah memiliki kemampuan teknologi informasi. Menurutnya, cara pengoperasian papan interaktif digital tidak jauh berbeda dengan penggunaan laptop.

“Para guru sudah belajar IT dan memahami cara menggunakannya. Penggunaannya kurang lebih sama seperti laptop, sehingga tidak ada kendala berarti. Sebelumnya juga sudah ada sosialisasi dan panduan tata cara penggunaan,” jelasnya.

Yopi menambahkan, pemanfaatan Papan Interaktif Digital dalam proses pembelajaran diserahkan kepada kebijakan masing-masing sekolah.

Mampu Gantikan Model Konkret

Di Bukittinggi, 80 sekolah telah menerima IFP menjadi salah satu program pembaharuan metode belajar. Yakni, 65 sekolah dasar dan 15 sekolah menengah pertama. 

Di antaranya, DSN 17 Pakankurai. Sekolah ini mendapatkan satu unit IFP sejak awal Oktober lalu. Kepala Sekolah 17 Pakaikurai Fitri Ajirni menilai, IFP mampu menggantikan model konkret, yang bisa ditampilkan secara audio visual.

“Misalnya kalau belajar tentang rangka, biasanya kita harus membawa model rangka secara manual ke dalam kelas, sekarang tersedia dalam program ini,” tutur dia. 

Sebagaimana di Padang, di sekolah ini juga baru tersedia satu unit IFP. Peserta didik hanya bisa mengaksesnya secara bergantian dan jadwalnya disusun sesuai kebutuhan.

“Hanya saja, sampai saat ini salah satu aplikasi ruang belajar yang juga tersedia dalam program ini belum bisa di akses,” imbuhnya. 

Di Kota Pariaman, sejumlah sekolah juga menyambut antusias penggunaan IFP. Kepala SDN 11 Kotomarapak Hervia menyebutkan, sebelum penggunaan, ia dan pihak guru mendapatkan arahan dari teknisi cara penggunaan IFP di kelas.

“Alhamdulillah karna sebagian besar guru-guru kami masih muda-muda jadi cepat sekali mengerti tentang cara penggunaan IFP. Murid sangat antusias dalam PBM ketika IFP ini kami gunakan di kelas,” ujarnya.

Pada pagi hari, IFP digunakan untuk pemutaran lagu Indonesia Raya dan layar senam pagi. Sedangkan untuk PBM digunakan secara bergantian dari satu kelas ke kelas lainnya.

“Jadwal khusus dari satu kelas ke kelas lainnya belum ada. Saat ini digunakan berdasarkan kebutuhan guru saja,” ungkap dia.

IFP ini digunakan mulai dari kelas rendah hingga kelas tinggi. Untuk kelas rendah seperti kelas 1 biasanya IFP diletakkan di kantor dan siswa yang belajar di kantor.

Baca Juga: IPSI Sumbar Dorong Revitalisasi Silek Tradisi, Wagub Vasko Ruseimy Tekankan Integrasi Silat ke Sekolah

Sebab, jumlah murid kelas 1 sedikit. Sedangkan untuk kelas tinggi langsung dibawa ke kelas masing-masing. Mata pelajaran yang digunakan untuk IFP ini biasanya MTK dan IPAS.

Sementara itu Kepsek SDN 19 Cubadakair Utara Yessy mengungkapkan, muridnya menyebutkan belajar dengan  “Tipi Gadang”. Hingga kemarin, dipakai seluruh siwa, keculai kelas 3.

Dia mengakui, penggunaan tidak ada kendala teknis. “Namun karna di sekolah kami muridnya sedikit dan belum ada wi-fi, jadi menggunakannya pakai hotspot ponsel guru kelas. Saat ini digunakan untuk Mapel Pendidikan Pancasila dan IPAS,” terangnya.

Tunggu Realisasi 100 Persen

Sementara itu, IFP di Kabupaten Dharmasraya belum terealisasi 100 persen. Besar kemungkinan dalam satu atau dua hari mendatang distribusinya tuntas 100 persen. Hingga kemarin (18/11) distribusi pada kisaran sekitar 70 persen.

Hal itu diungkapkan Plt Kepala Dinas Pendidikan Bobby Perdana Riza. “Jika sudah sampai 100 persen, kita akan lakukan pelatihan terhadap guru-guru. Makanya papan digital yang sudah kita terima tersebut belum di pergunakan,” sebutnya.

Guru, tekan dia, adalah kunci utama. “Makanya kita menyiapkan program pelatihan penggunaan papan belajar digital. Hal tersebut dimaksudkan agar para pendidik tidak hanya mampu mengoperasionalkannya tapi juga dapat merancang skenario pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” ulasnya.

Ia pun menyampaikan, selama ini pihkanya terus berupaya mendorong sekolah-sekolah agar lebih siap menghadapi era digital. Bantuan belajar digital tersebut sangat berarti karena dapat memperluas akses teknologi hingga ke sekolah-sekolah.

“Kita berharap perangkat tersebut tidak hanya menjadi alat bantu mengajar, tapi juga mampu mengubah metode pembelajaran agar lebih kreatif, interaktif dan menyenangkan bagi siswa,” tukasnya. (cr4/cr2/eri/rna/nia/ita)

Editor : Novitri Selvia
#Disdikbud Kota Padang #IFP #Yopi Krislova #interactive flat panel #SDN 11 Lubukbuaya Padang