PADEK.JAWAPOS.COM-INTERACTIVE flat panel (IFP) hanyalah salah satu alat pendukung proses belajar mengajar (PBM). Guru tetap sebagai aktor utamanya.
Aktivator pembelajaran di mana mereka adalah orang yang bisa mengaktifkan siswanya untuk belajar. Hal tersebut diungkapkan pakar pendidikan Nofrion kepada Padang Ekspres kemarin.
”Kita juga harus tetap realistis,” tekannya dalam menyikapi digitalisasi dunia pendidikan di Indonesia saat ini.
Menurut akademisi dari Universitas Negeri Padang (UNP) ini, keberadaan teknologi digital seperti IFP memang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Karena hal ini membiasakan siswa untuk memanfaatkan konten-konten secara digital untuk pembelajaran. Namun, hal tersebut harus juga selaras atas dukungan pihak-pihak yang menggunakan teknologi secara langsung.
“Apabila guru belum menguasai pemanfaatan teknologi dan siswa belum terbiasa dengan metode pembelajaran seperti itu maka bisa saja papan interaktif digital ini hanya menjadi pajangan belaka,” ungkap Kepala Subdirektorat Inovasi Pembelajaran, PJJ, dan RPL Universitas Negeri Padang (UNP) tersebut.
Di sisi lain, ia pun tak memungkiri kehadiran Smart TV tersebut memang seperti mengangkat impresi kelas, di mana teknologi digital membuat kelas jadi lebih terpandang. Namun yang utama ialah pemanfaatannya yang harus dipikirkan bersama.
Secara gagasan, menurutnya, Sumbar memang membutuhkan peningkatan teknologi dalam sektor pendidikan seperti program ini.
Namun ia menggarisbawahi, apakah para tenaga pendidikan yang akan menggunakan teknologi ini sudah dipersiapkan secara matang dan apakah sudah merata untuk penyebaran pengetahuan pembalajaran dengan metode baru ini.
“Hal seperti ini menjadi tugas bersama kita agar tak menjadi program yang dinilai mubazir seperti sebelum-sebelumnya,” ingatnya.
Terpisah, Fitri Arsih berpendapat, implementasi teknologi ini memerlukan kesiapan sekolah. Seperti ketersediaan listrik, jaringan internet dan keterampilan guru sebagai pengguna.
“Oleh karena itu, guru-guru harus diberikan bimbingan teknis, apalagi tuntutan saat ini adalah digitalisasi pendidikan,” jelasnya.
Meski demikian, pakar pendidikan dari UNP ini menegaskan bahwa kehadiran panel interaktif digital bukan berarti guru harus meninggalkan perangkat konvensional.
Terutama saat sumberdaya listrik mengalami gangguan seperti pemadaman listrik atau lemotnya jaringan internet. Menurutnya, kombinasi keduanya justru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel.
Selain itu, penggunaan panel yang berketerusan tanpa jedah juga dapat mempengaruhi kesehatan mata atau kelelahan siswa. “Di samping terlalu fokus pada layar berpotensi mengurangi interaksi sosial siswa dan guru,” katanya.
Pengamat sosial Erianjoni menilai, generasi Z dan generasi Alfa membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih visual dan digital.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi canggih seperti IFP tidak boleh terburu-buru dan harus dibarengi dengan kesiapan guru, infrastruktur, serta pemahaman menyeluruh tentang tujuan penggunaannya.
IFP, tekannya, bisa sangat berguna untuk memperkaya proses belajar mengajar, selama perangkat itu benar-benar digunakan secara efektif.
Tanpa kesiapan guru dan tanpa pendampingan, ia khawatir IFP hanya akan menjadi pajangan mewah di kelas.
Ia menyebut masih banyak sekolah yang guru-gurunya belum terbiasa mengoperasikan perangkat digital, terutama guru berusia 45 tahun ke atas.
Jika pelatihan tidak diberikan secara serius, ia menilai penggunaan IFP justru berisiko menambah beban guru karena mereka dipaksa beradaptasi tanpa dukungan yang memadai.
Dunia pendidikan di Sumbar, sebutnya, sudah siap dengan digitalisasi perangkat seperti panel interaktif ini. Namum kesiapannya masih bertingkat.
Harus ada uji coba dulu sekolah-sekolah yang sudah siap, terutama di kota-kota seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sawahlunto dengan sekolah yang berbasis digitalisasi.
“Setelah dievaluasi dan terbukti berhasil, program baru diperluas ke daerah lain,” ujar sekretaris UNP itu.
Ia juga mengingatkan, teknologi memang penting, tetapi manusia yang mengoperasikan teknologi itu jauh lebih penting.
”Butuh pelatihan kepada guru untuk mekanisme penggunaan alat tersebut, sehingga terawat dan tidak rusak pengunaannya, sebab mungkin harga satu alat itu cukup mahal,” ujar Erianjoni.
Meski demikian, nenurutnya, digitalisasi adalah kebutuhan zaman dan Sumbar tidak boleh tertinggal dari provinsi lain.
Penggunaan IFP dapat memperkaya metode belajar, membuka peluang inovasi, dan membuat sekolah-sekolah di Sumbar bergerak menuju konsep smart school.
Tetapi semua itu hanya bisa tercapai jika implementasinya dirancang dengan matang, sesuai kebutuhan sekolah, dan bukan hanya untuk pencitraan.
Tak Terantikan
Sementara itu, Pemprov Sumbar memperkuat komitmennya untuk menetapkan Program Digitalisasi Pembelajaran. Komitmen ini ditegaskan kembali menyusul peluncuran program tersebut oleh Presiden Prabowo baru-baru ini.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Habibul Fuadi menyebutkan bahwa implementasi program telah berjalan di tahap awal. “Saat ini di Sumbar sudah ada 120 sekolah digital yang menggunakan panel interaktif tersebut di tingkat SMA,” ujarnya.
Ke-120 sekolah perintis ini telah tersebar di berbagai kabupaten dan kota, membentuk fondasi awal jaringan sekolah digital di Sumbar.
Menurut Habibul, masa percobaan dan implementasi awal panel interaktif tersebut berjalan tanpa hambatan yang signifikan.
“Selama penggunaan panel interaktif tersebut tidak ada kendala sama sekali. Bahkan, guru dan siswa lebih dimudahkan dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.
Baca Juga: Sumbar Raih Bhumandala Award 2025 atas Inovasi Pengawasan Tata Ruang Berbasis Geospasial
Dia menegaskan, kapasitas tenaga pengajar di Sumbar tidak diragukan lagi dalam menghadapi transformasi teknologi ini. “Guru-guru kita di Sumbar sudah hebat menggunakan komputer. Jadi tidak masalah lagi kalau menggunakan panel interaktif ini,” tambah Habibul.
Dukungan terhadap kapabilitas guru tersebut diperkuat dengan adanya tambahan guru-guru muda. “Apalagi saat sekarang sudah banyak guru-guru muda lulusan dari berbagai perguruan tinggi ternama. Jadi tidak menjadi persoalan dalam menggunakan panel interaktif tersebut,” paparnya.
Menurutnya, kehadiran teknologi tidak menggantikan, melainkan melengkapi peran pendidik. “Jadi, meski menggunakan panel ini, guru bukan berarti tidak memandu siswa dalam belajar. Guru tetap memandu, posisinya (panel) sama seperti papan tulis,” tegasnya.
“Jadi ini semakin memudahkan siswa dalam belajar, bukan menyulitkan.” tambahnya. Meskipun demikian, Habibul mengakui bahwa cakupan program masih belum merata.
“Masih banyak sekolah yang belum mendapatkan panel interaktif tersebut,” ujarnya. Pihaknya optimis seluruh sekolah bisa menerapkan pembelajaran sistem digital. (cr4/cr1/wni)
Editor : Novitri Selvia