“Sebagai ayah, tentu saya ingin hadir dalam momen bahagia keluarga. Namun sebagai Gubernur, saya harus mendahulukan amanah,” ujar Mahyeldi lewat akun media sosialnya, Senin (1/12/2025).
Menurutnya, keputusan ini diambil bersama keluarga sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat yang tengah berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.
Menjawab pertanyaan netizen tentang alasan pembatalan dan bukan penundaan, Mahyeldi menegaskan, “Pesta pernikahan bukan inti dari sebuah pernikahan.”
Ia juga mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban bencana, dan para relawan diberikan kekuatan dalam upaya membantu sesama.
Gubernur Mahyeldi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kerabat dan undangan yang telah merencanakan hadir.
Menurut Mahyeldi, kondisi Sumatera Barat saat ini membutuhkan perhatian penuh dari pemerintah daerah. Ribuan keluarga terdampak bencana memerlukan bantuan segera, termasuk evakuasi, pemulihan infrastruktur, dan distribusi logistik.
"Kami merasa tidak pantas rasanya merayakan kebahagiaan ketika saudara kita (warga terdampak bencana, red) tengah berjuang dan berduka," ungkapnya.
Update Dampak Bencana Sumbar
Sebelumnya, Gubernur menyampaikan bahwa kerugian daerah akibat banjir dan longsor di Sumbar telah melampaui Rp1 triliun.
Data yang divalidasi hingga Minggu, 30 November 2025 pukul 21.00 WIB mencatat 132 orang meninggal dunia dan 118 orang masih dinyatakan hilang.
Mahyeldi menyebut bencana hidrometeorologi melanda hampir seluruh wilayah, dengan 16 kabupaten/kota terdampak signifikan.
Kerusakan fisik meliputi 33.000 unit rumah rusak, 16.000 hektare lahan pertanian terdampak, serta 99 sekolah, 12 fasilitas kesehatan, 72 rumah ibadah, dan 13 perkantoran. Kerusakan juga terjadi pada 72 irigasi, 10 bendungan, serta sejumlah jembatan, tebing, dan ruas jalan.
Pemerintah daerah berkomitmen terus memantau dan mendukung pemulihan masyarakat di seluruh kabupaten dan kota terdampak.(*).
Editor : Heri Sugiarto