PADEK.JAWAPOS.COM-Korban meninggal dari bencana hidrometeorologi basah di Sumbar telah mencapai 235 orang. Begitulah setidaknya data hingga pukul 08.00 WIB kemarin dari tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumbar
Dari jumlah tersebut, 205 korban telah teridentifikasi. Terdiri dari 103 laki-laki dan 102 perempuan. Sementara itu 30 korban lainnya masih belum dapat diketahui.
Pelaksana Tugas (Plt) Kabiddokkes Polda Sumbar AKBP Faisal menjelaskan, di tengah upaya identifikasi jenazah, tim gabungan yang terdiri dari TNI-Polri, Basarnas, BPBD, PMI, relawan, dan unsur pemerintah daerah, masih terus melakukan pencarian terhadap 93 orang yang dinyatakan hilang.
Mereka terdiri dari 48 laki-laki dan 45 perempuan. Pencarian dilakukan secara menyeluruh. Terutama pada wilayah aliran sungai, lereng perbukitan, dan area permukiman yang mengalami kerusakan parah akibat longsor dan banjir bandang.
Ia mengatakan selain korban meninggal, sebanyak 20 korban luka masih dirawat di sejumlah rumah sakit. Rinciannya, 17 orang menjalani perawatan di RSUD Agam, satu orang dirawat di RSUD Padang Panjang, dan dua orang lainnya mendapatkan perawatan di RSUD Rasidin Padang.
Dia menegaskan, proses identifikasi terus dilakukan dengan kecepatan dan ketelitian maksimal, mengingat banyak korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh.
“Tim DVI bekerja tanpa henti demi memastikan setiap korban dapat dikenali dan dipulangkan kepada keluarga masing-masing,” sebutnya.
DVI Polda Sumbar juga berkoordinasi erat dengan Pusdokkes Polri, Polda Sumbar, Dinas Kesehatan, BPBD, Basarnas, PMI, serta rumah sakit rujukan di berbagai kabupaten dan kota.
Seluruh perkembangan data terus diperbarui untuk memastikan proses penanganan korban berjalan cepat, tepat, dan akuntabel.
Evaluasi Jelang Tanggap Darurat Berakhir
Sementar itu, jelang berakhirnya masa tanggap darurat, Pemerintah Kota (Pemko) Padangpanjang menggelar rapat evaluasi pada Senin (8/12) malam lalu di Posko Tanggap Darurat, Markas Koramil 01/Padangpanjang.
Rapat dipimpin Wakil Wali Kota Allex Saputra bersama unsur terkait. Seperti TNI, Polri, Basarnas, BNPB, dan OPD. Pada kesempatan itu dia menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam proses pencarian korban yang masih berlangsung.
Allex pun meminta seluruh informasi kepada masyarakat—termasuk uji coba jalur kendaraan roda dua—disampaikan secara jelas dan terkoordinasi.
Ia mengingatkan OPD agar memastikan pelaporan administrasi dilakukan lengkap, akurat, dan akuntabel. “Semua pasti lelah, tetapi ketelitian kita hari ini akan menghindarkan permasalahan di kemudian hari. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh pihak dalam penanganan pascabencana ini,” ujar Allex.
Sekdako Sonny Budaya Putra berharap BNPB terus memberikan pendampingan. Terutama dalam memastikan kevalidan data infrastruktur yang sudah dan belum ditangani.
Sonny menegaskan pentingnya penyusunan dokumen yang transparan, serta komitmen seluruh pihak dalam merampungkan data yang diminta.
“Hasil koordinasi dengan BPBPK Sumbar menegaskan perlunya data kerusakan fasilitas pemerintah dan fasilitas penunjang yang lengkap. Kita menargetkan datanya dapat disampaikan sehari setelah rapat evaluasi ini,” ucap Sonny.
Di kesempatan yang sama, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Madya BNPB Rudi Supriadi menilai langkah Pemko Padangpanjang sudah sejalan dengan harapan keluarga korban.
Pencarian tetap dimaksimalkan hingga masa tanggap darurat berakhir, sekaligus melengkapi administrasi yang diperlukan.
Selain itu, Rudi juga mengingatkan pentingnya perencanaan hunian sementara dan hunian tetap. Termasuk kajian teknis dan usulan rekonstruksi, serta pemenuhan kebutuhan logistik selama masa transisi.
“Kami melihat Pemko cukup responsif dalam memperbarui informasi, sehingga data yang diperlukan dapat segera dipenuhi,” ujar Rudi.
Sementara Perwakilan Basarnas, Samsul Akmal dikesempatan yang sama melaporkan penyisiran masih dilakukan hingga sore hari menggunakan drone menyusuri aliran sungai hingga perbatasan Kota Padang.
“Pencarian akan dilanjutkan esok hari dengan penyisiran ulang serta rafting menggunakan perahu karet. Meskipun masa tanggap darurat berakhir pada 11 Desember, kita tetap berkomitmen melanjutkan pencarian sesuai arahan Basarnas,” sebutnya.
Bantuan Obat-obatan
Dalam Masa penanganan pascabencana, Posko Utama Tanggap Darurat kembali menerima dukungan logistik berupa obat-obatan dan perlengkapan kebersihan dari sejumlah perusahaan besar.
Sonny Budaya Putra menyebut bantuan ini memperkuat ketersediaan kebutuhan kesehatan dan sanitasi bagi warga terdampak yang masih dalam masa pemulihan.
Bantuan tersebut di antaranya dari perusahaan PT Petrosea yang menyalurkan berbagai jenis obat dalam jumlah besar.
Bantuan yang diberikan antara lain ibuprofen (300 tablet), ranitidin (300 tablet), ambroxol (200 tablet), Cendo Xitrol (3 botol), dan cetirizine 10 mg (400 tablet). Kemudian ada domperidone 10 mg (200 tablet), amlodipine 10 mg (200 tablet), amlodipine 5 mg (200 tablet), Antangin (10 boks), ketoconazole (200 tablet), dan sejumlah obat lainnya.
“Ketersediaan obat-obatan ini menambah kesiapan posko dalam memenuhi kebutuhan medis warga selama masa pemulihan pascabencana,” beber Sonny, Selasa (9/12).
Dikatakannya selain dukungan medis, PT Unilever Indonesia juga menyerahkan bantuan perlengkapan kamar mandi dan kebersihan.
“Demikian juga partisipasi masyarakat terus berdatangan. Dengan semakin bertambahnya dukungan berupa obat-obatan dan perlengkapan kebersihan, Posko Utama TDB semakin siap memberikan layanan terbaik bagi masyarakat yang tengah memasuki masa pemulihan. (cr1/wrd)
Editor : Novitri Selvia