PADEK.JAWAPOS.COM-CURAH hujan tinggi kembali menguyur sejumlah kabupaten dan kota di Sumbar, kemarin. kondisi ini kembali membuat aliran sungai meluap.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau menyebut, kemunculan bibit siklon tropis 91S di sebelah barat daya Sumbar menjadi penyebabnya.
Bibit siklon tropis itu meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang berdampak pada hujan masif di wilayah Sumbar dalam beberapa hari ke depan.
Kepala Stasiun BMKG Kelas II Minangkabau Desrindra Deddy Kurnia mengatakan, bibit siklon ini tidak berpengaruh langsung ke Sumbar. Namun tetap memberikan dampak tidak langsung berupa pola konvergensi.
”Bibit siklon tropis 91S memicu adanya konvergensi. Dalam tiga hari ke depan pola ini masih bertahan, sehingga hujan masif masih berpotensi terjadi,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondisi ini juga diperkuat oleh fase puncak musim hujan yang memang berlangsung sepanjang Desember.
”Curah hujan tetap tinggi. Selain dipicu bibit siklon tropis tersebut, kita juga sedang berada di puncak musim hujan,” katanya.
Dia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panic. Namun terus memperbarui informasi resmi dari BMKG.
“Kami berharap masyarakat tetap tenang. Tidak perlu khawatir berlebihan, tapi tetap waspada dan selalu mengikuti informasi cuaca terbaru,” tutupnya.
Abai Siat Terendam Banjir
Tingginya intensitas hujan sejak Selasa (9/12) malam hingga Rabu (10/12) menyebabkan Batang Siek di Kabupaten Dharmasraya tidak mampu lagi menahan debit air.
Akhirnya meluap ke perumahan warga dengan ketinggian air yang bervariasi. Namun jelang sore, ketinggian air sudah mulai surut. Luapan air tersebut membuat puluhan rumah di Nagari Abai Siat Kecamatan Koto Besar terendam banjir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Suherman mengatakan, sekitar 25 Kepala Keluarga (KK) diungsikan. Ini untuk menjaga segala kemungkinan terburuk.
“Alhamdulillah, air sudah surut, kendati demikian kita tetap menghimbau kepada warga untuk selalu waspada,” ucapnya.
Hal senada di ungkapkan Kepala Dinas Sosial Marten Effendi, mendapat informasi Sungai Siek meluap, dirinya beserta Wakil Bupati Leli Arni, Sekdakab Jasman Rizal, Kalaksa BPBD Suherman termasuk Polres Dharmasraya dan lainnya langsung bergerak ke lokasi, termasuk pihak Kecamatan, Nagari dan lainnya.
“Alhamdulillah situasi masih aman terkendali, apa lagi air sudah surut. Karena fenomenanya memang seperti itu, air cepat naik dam cepat kiga surut. Sebetulnya kita berencana akan mendirikan dapur umum, sesuai dengan arahan pimpinan. Tapi karena kondisi aman terkendali, maka pendirian dapur umum di tangguhkan dulu.Kita semuanya stand by di lokasi, sambil terus memantau kondisi,” terang dia.
Gunung Talang Waspada
Terpisah. Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Talang di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
“Berdasarkan pengamatan visual dan aktivitas kegempaan sampai 10 Desember 2025, maka tingkat aktivitas Gunung Talang dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada),” kata Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Padang, Rabu.
Dengan naiknya status gunung api tersebut Badan Geologi mengeluarkan dua rekomendasi. Pertama, melarang masyarakat di sekitar Gunung Talang, pengunjung atau wisatawan mendekati dan bermalam di sekitar kawah gunung dalam radius dua kilometer.
Kedua, kata dia, masyarakat di sekitar Gunung Talang dan pengunjung atau wisatawan diminta mewaspadai potensi longsor di kawasan Kawah Selatan gunung tersebut.
Badan Geologi akan terus memantau tingkat aktivitas Gunung Talang termasuk menginformasikan jika terdapat perubahan visual maupun kegempaan yang signifikan.
Ia mengatakan, pada 10 Desember 2025 pukul 02.48 WIB terjadi gempa bumi tektonik magnitudo 4.7 pada kedalaman 10 kilometer dengan jarak 18 kilometer dari Kota Solok. Pascakejadian lindu tersebut hingga pukul 09.00 WIB terekam gempa vulkanik tektonik sebanyak 227 kali kejadian.
Baca Juga: Haluan Digital Agency Raih Peringkat 1 MCN Ranking TikTok Shop 2025
Selama 2025, Badan Geologi mencatat pemunculan swarm sebanyak empat kali yaitu pada 8 April, 25 Juli, 23 September dan 9 Oktober.
Sebaran episenter swam gempa vulkanik tektonik memperlihatkan periode 23 September lebih menkluster di area kawah daripada periode 8 April dan 25 Juli.
Demikian pula dengan kedalaman swarm gempa vulkanik tektonik periode 23 September lebih dangkal dari periode 8 April dan 25 Juli 2025.
Pemunculan gempa ini mengindikasikan adanya migrasi atau perpindahan magma dari kantong magma dalam ke arah permukaan.
Sedangkan pemunculan fenomena swarm vulkanik tektonik adalah indikator akan ketidakstabilan kondisi vulkanik yang terkadang diikuti oleh erupsi. (yud/ita/ant)
Editor : Novitri Selvia