Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Biaya Bibit Tinggi dan Cuaca Hujan Tekan Petani Bawang Merah, Harga Jual Masih Fluktuatif

Muhammad Reza Bayu Permana • Rabu, 17 Desember 2025 | 10:37 WIB

Petani bawang merah tertekan biaya bibit mahal dan cuaca hujan, sementara harga jual di tingkat petani masih fluktuatif dan berisiko.
Petani bawang merah tertekan biaya bibit mahal dan cuaca hujan, sementara harga jual di tingkat petani masih fluktuatif dan berisiko.
PADEK.JAWAPOS.COM—Petani bawang merah menghadapi tekanan pada musim tanam saat ini akibat curah hujan tinggi dan besarnya kebutuhan modal produksi.

Kondisi cuaca meningkatkan risiko gangguan tanaman, sementara harga jual di tingkat petani belum stabil.

Heru (32), petani bawang merah, menyebut biaya bibit menjadi komponen terbesar dalam modal awal. Untuk kebutuhan 250 kilogram bibit, ia mengeluarkan dana sekitar Rp22 juta atau setara Rp88.000 per kilogram.

“Modal awalnya sangat besar, terutama di bibit,” ujar Heru.

Di sisi lain, harga jual bawang merah yang diterima petani dari pedagang pengumpul saat ini berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.

Selisih yang lebar antara harga bibit dan harga jual panen membuat potensi keuntungan menjadi terbatas.

Tingginya harga bibit berkaitan dengan proses persiapan yang memakan waktu.

Bibit harus diolah dan disimpan sekitar dua bulan sebelum siap tanam, yang menjadi bagian dari investasi awal petani.

Pada musim hujan, petani memilih varietas bibit Birma yang dinilai lebih adaptif di lahan lembap seperti wilayah Alahan Panjang.

Varietas ini mampu tumbuh lebih cepat pada kondisi kelembaban tinggi, meski harganya relatif mahal.

Pengolahan lahan juga menghadapi kendala cuaca. Tanah yang lembek akibat hujan tidak dapat langsung diolah dan harus menunggu hingga enam hari agar kadar air berkurang.

“Kalau dipaksa diolah, bedengannya jadi padat dan pertumbuhan bawang bisa terhambat,” kata Heru.

Baca Juga: Gianluigi Donnarumma Dinobatkan sebagai Kiper Terbaik Dunia FIFA The Best 2025

Untuk menjaga kualitas tanaman, petani membuat bedengan lebih tinggi guna memperlancar drainase.

Kapur dolomit digunakan untuk menaikkan pH tanah yang cenderung asam, serta pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah.

Risiko serangan jamur tetap tinggi pada musim hujan. Kelembaban memicu penyakit tanaman dan meningkatkan kebutuhan fungisida, yang berdampak pada kenaikan biaya operasional.

Jika serangan jamur muncul, penyemprotan dilakukan selama tiga hari berturut-turut dan diulang dua hari kemudian.

Menurut Heru, kondisi ini menambah beban biaya produksi meski hasil panen secara jumlah terkadang lebih baik.

Risiko lain muncul saat panen. Bawang merah tidak dapat dipanen ketika hujan karena berpotensi mengalami busuk leher dan busuk simpan. Petani harus menunggu cuaca panas agar kualitas hasil panen terjaga.

“Kualitas tidak menjamin. Kalau hujan, jamur banyak dan risiko busuk tinggi,” ujarnya.

Petani berharap adanya dukungan pemerintah untuk menekan beban produksi, termasuk subsidi pengendalian penyakit, stabilisasi harga bibit, dan kepastian harga jual panen di tingkat petani.(CR2)

Editor : Hendra Efison
#harga bibit bawang #harga bawang merah #petani bawang merah #musim hujan pertanian