Imbauan tersebut disampaikan pemuka agama Sumatera Barat, Ustadz Dede Bafaqih, S.H., yang meminta umat Islam menjadikan momentum pergantian tahun sebagai waktu evaluasi diri dan empati sosial.
“Pergantian tahun Masehi bukan hari raya dalam Islam. Umat Islam hanya memiliki dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha,” kata Ustadz Dede, Kamis (25/12/2025).
Ia merujuk Hadis Riwayat An-Nasa’i Nomor 1556 tentang Rasulullah SAW yang menggantikan dua hari permainan penduduk Madinah dengan Idul Fitri dan Idul Adha.
Menurutnya, perayaan malam tahun baru yang bersifat hura-hura tidak sejalan dengan nilai keislaman yang menekankan ibadah dan perbaikan diri.
Ustadz Dede menilai kondisi Sumatera Barat yang masih dilanda bencana menuntut empati dan kepedulian bersama.
Masyarakat diajak memperbanyak istighfar dan muhasabah dibandingkan kegiatan konvoi atau pesta kembang api.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam, pergantian waktu merupakan pengingat berkurangnya usia manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Ashr ayat 1–3.
“Pergantian waktu dianjurkan diisi dengan peningkatan iman dan amal saleh. Perlu dipahami, tahun baru bagi umat Islam adalah 1 Muharram, bukan 1 Januari,” ujarnya.
Ustadz Dede menegaskan bahwa 1 Januari tidak memiliki nilai religius dalam Islam, sehingga tidak perlu dirayakan secara khusus.
Ia menyampaikan imbauan ini sebagai bagian dari pendidikan keagamaan agar masyarakat memiliki skala prioritas yang tepat, terutama dalam membantu korban bencana.
“Menolong sesama yang tertimpa musibah jauh lebih utama dibandingkan perayaan yang tidak berdampak jangka panjang,” katanya.
Ia berharap malam pergantian tahun di Sumatera Barat dapat berlangsung aman, tenang, dan diisi dengan doa serta kepedulian sosial.(CR3)
Editor : Hendra Efison