Elfindri menyampaikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan I 2025 sebesar 4,66 persen, kemudian melambat pada triwulan II menjadi 3,94 persen dan triwulan III sebesar 3,36 persen.
“Kerugian akibat banjir bandang diperkirakan setara dua tahun APBD Sumbar, sehingga diperlukan strategi pemulihan yang tidak biasa,” kata Elfindri, Rabu (31/12/2025).
Ia menjelaskan, perlambatan ekonomi 2025 terjadi setelah pertumbuhan membaik pada 2024 akibat kembalinya peran autonomous investment dari pembangunan infrastruktur, seperti Jalan Tol, pengembangan Bandara Internasional Minangkabau (BIM), ruas Lembah Anai, serta proyek hotel.
Menurutnya, komposisi investasi 2024 didominasi sektor tersier yang mencapai sekitar 65 persen, namun ruang fiskal daerah masih terbatas karena penerimaan pajak dan retribusi tidak tumbuh signifikan.
Elfindri mencatat, bencana Desember 2025 berdampak pada sekitar 5,26 persen populasi Sumbar di lebih dari 80 persen wilayah pemerintahan daerah. Dampak terberat terjadi pada sektor perumahan dan infrastruktur.
Data sementara menunjukkan 2.606 rumah rusak berat atau hanyut, 2.933 rumah rusak sedang, serta 41.038 rumah terdampak genangan yang memerlukan pembersihan dan perbaikan sanitasi.
Selain itu, tercatat 164 jembatan mengalami kerusakan, serta sejumlah ruas jalan provinsi, kabupaten, dan desa terputus, terutama di Lembah Anai dan Padang–Bukittinggi via Malalak.
Ia memperkirakan total kerugian ekonomi akibat banjir dan longsor mencapai lebih dari Rp5 triliun, dengan sekitar 64 persen berupa kerusakan sarana dan prasarana.
“Nilai ini setara sekitar 65 persen dari total investasi pemerintah dan masyarakat pada 2024, dan masih berpotensi bertambah setelah pendataan ulang,” ujarnya.
Untuk pemulihan, Elfindri mengusulkan strategi Double Gardan, yakni mendorong autonomous investment melalui APBN dan APBD, serta mengoptimalkan peran organisasi masyarakat, NGO, dan perantau berbasis masjid.
“Dalam kondisi tidak normal seperti bencana, kita tidak bisa hanya mengandalkan negara atau pasar. Perlu peran bersama, termasuk NGO dan perantau yang mampu menggerakkan induced investment,” katanya.
Ia menilai sektor agrobisnis, agromarine, UMKM berbasis pertanian, laut, dan budaya perlu menjadi fokus utama pemulihan ekonomi Sumbar ke depan.
Elfindri juga mendorong peran PT Semen Padang dalam rekonstruksi bangunan, jembatan, dan fasilitas umum, serta diversifikasi produk material bangunan untuk mendukung pemulihan jangka menengah hingga lima tahun. (yud)
Editor : Hendra Efison