Hal ini seiring tingginya minat warga bepergian ke luar negeri di tengah kenaikan kurs dolar Amerika Serikat.
Lonjakan transaksi tersebut disampaikan Diki Prima dari PT Equator Valuta Asing, yang mencatat peningkatan sejak sebelum libur akhir tahun hingga awal Januari.
“Grafik penukaran sangat baik sejak sebelum liburan Nataru sampai sekarang. Minat liburan ke luar negeri sangat tinggi, terutama di kantor pusat maupun cabang kami di bandara yang kenaikannya signifikan,” ujar Diki, Jumat (9/1/2026).
Mata uang yang paling banyak ditukarkan adalah Ringgit Malaysia (MYR), Dolar Singapura (SGD), dan Baht Thailand (THB).
Volume penukaran Ringgit Malaysia bahkan sempat menembus 50 ribu dalam sehari.
Pada Jumat (9/1/2026), harga jual USD di Padang berada di angka Rp16.675.
Diki menjelaskan kenaikan kurs dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat, situasi politik global, serta pergerakan harga minyak dunia.
“USD hari-hari ini terhitung naik. Namun permintaan tetap stabil karena kami memiliki pelanggan tetap dari kalangan dosen, peneliti, sampai lembaga internasional,” katanya.
Ringgit Malaysia turut mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp4.240 dari sebelumnya Rp3.900.
Meski sempat muncul keluhan, transaksi tetap berjalan stabil setelah diberikan penjelasan berbasis data analisis mingguan.
“Kenaikan harga tidak mengurangi minat warga. Secara akumulasi, transaksi di semua cabang meningkat lebih dari 60 persen dari rata-rata harian,” ujar Diki.
Untuk negara tujuan dengan mata uang langka, Diki menyarankan warga menggunakan USD sebagai mata uang perantara.
Ia memprediksi nilai valas tetap tinggi, namun aktivitas penukaran di Padang akan stabil karena mobilitas internasional masyarakat masih kuat.(cr3)
Editor : Hendra Efison