Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Pasaman, Novi Yurandi mengatakan operasi pencarian terhadap korban di Sungai Batang Sikerbau, sudah dimulai pada Minggu (4/1), namun hingga hari ketujuh pada Sabtu (10/1) korban belum ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Sesuai Undang-undang Nomor 29 Tahun 2014 kemudian juga Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Operasi SAR dan Pertolongan dilakukan selama tujuh hari. ”Jika tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban dan dari pertimbangan teknis operasi dirasa sudah tidak efektif lagi maka operasi SAR itu bisa dihentikan,” ujar Novi, Minggu (11/1).
Menurutnya, proses penutupan operasi SAR terhadap pencarian korban diawali dengan evaluasi tim SAR gabungan, koordinasi bersama pihak keluarga korban serta seluruh unsur terkait. Maka operasi SAR dihentikan kerena hingga hari ketujuh belum ditemukan petunjuk keberadaan korban.
”Berdasarkan hasil musyawarah antara Basarnas, pemerintah daerah, kemudian keluarga korban yaitu ayah korban sendiri. Sehingga diputuskan pada tanggal 10 Januari disepakati pelaksanaan penghentian pencarian terhadap korban,” tuturnya.
Meskipun pencarian telah dihentikan, Novi memastikan pemantauan tetap dilakukan. Jika ke depan muncul informasi atau petunjuk baru terkait keberadaan korban maka operasi SAR akan kembali dibuka. ”Apabila terdapat informasi atau tanda-tanda terhadap korban maka pelaksanaan operasi dapat dibuka kembali,” pungkasnya.
Ia mengungkapkan, tim gabungan telah menyisir lokasi dengan jangkauan pencarian mencapai radius 35 kilometer dari titik awal dugaan kejadian. Untuk memperluas area pantauan, SAR juga mengerahkan drone thermal.
”Area pencarian kurang lebih sudah 35 kilometer sampai dengan Muara Airbangis, semuanya sudah ditelusuri, baik menggunakan peralatan SAR air, perahu karet, rafting, kemudian via udara juga sudah diturunkan drone thermal,” ungkapnya.
Dalam upaya pencarian, tim gabungan yang terlibat terdiri dari lima personel Basarnas Pasaman, sepuluh personel BPBD Pasbar, lima personel Local Hero Rescue, TNI, POLRI, serta warga setempat.
”Untuk peralatan kita menurunkan dua perahu karet bermesin, tiga perahu karet rafting, dibantu juga perahu karet bermesin dari Pol Air, dan perahu masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan, proses pencarian berjalan dengan lancar karena kondisi air sungai cukup baik dan tidak terlalu tinggi. Meski demikian, sungai tersebut merupakan habitat buaya sehingga seluruh proses pencarian dilakukan dengan ekstra hati-hati. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam upaya pencarian korban.
Ia juga mengimbau keluarga korban dan masyarakat yang masih melakukan pencarian untuk mengutamakan keselamatan dalam setiap upaya pencarian. Warga diminta tidak bertindak gegabah selalu waspada. Mengingat lokasi pencarian berada di sungai habitat buaya. ”Jika nanti menemukan keberadaan korban dan masyarakat tidak bisa beroperasi segera lapor ke kami,” tutupnya. (*)
Editor : Eri Mardinal