Kondisi ini diungkapkan sejumlah pencari kerja muda yang masih berjuang mendapatkan pekerjaan sejak lulus.
Rahman (24), lulusan perguruan tinggi tahun 2024, mengatakan sudah mengirimkan ratusan lamaran ke berbagai perusahaan namun belum menerima satu pun panggilan kerja.
“Saya merasakan langsung betapa susahnya mencari kerja di Indonesia saat ini. Sejak tamat tahun lalu, rasanya peluang itu sangat tertutup bagi kami yang baru lulus,” ujar Rahman, Sabtu (17/1/2026).
Ia juga menyoroti dugaan praktik nepotisme dalam proses rekrutmen yang dinilai masih terjadi di beberapa perusahaan.
Menurutnya, pelamar dengan koneksi internal lebih diutamakan dibanding mereka yang mengandalkan kemampuan teknis.
“Pengalaman saya, banyak yang diterima adalah orang-orang yang punya orang dalam. Meskipun kita punya skill yang mumpuni, tetap saja sulit bersaing dengan jalur tersebut,” katanya.
Rahman berharap pemerintah menepati janji penyediaan lapangan kerja dan memberikan solusi bagi meningkatnya jumlah pengangguran terdidik.
Keresahan serupa disampaikan Afdhal (25). Ia mengaku tuntutan administrasi dan kualifikasi perusahaan tidak sebanding dengan kompensasi yang ditawarkan.
“Syaratnya sangat sulit, tapi gaji yang ditawarkan kecil. Kita dituntut bekerja dengan tekanan tinggi, namun jaminan kesejahteraan masih minim,” ungkap Afdhal.
Afdhal sempat mempertimbangkan membuka usaha sendiri, namun terbentur keterbatasan modal.
Ia berharap pemerintah memperbaiki regulasi ketenagakerjaan, meningkatkan transparansi rekrutmen, serta memperkuat perlindungan bagi pekerja.
“Ada rencana untuk memulai usaha sendiri supaya tidak bergantung pada perusahaan, tapi modalnya tidak ada. Kami benar-benar berada di posisi yang sulit saat ini,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya sistem rekrutmen yang lebih terbuka dan adil agar pencari kerja muda memiliki kesempatan yang sama dalam memasuki pasar kerja.(CR3)
Editor : Hendra Efison