Ketertarikan itu muncul ketika ia ingin memanfaatkan halaman rumah untuk menanam anggur.
Rika sempat membibitkan anggur dari biji, namun tanaman yang tumbuh tidak menghasilkan buah.
Tidak berhenti di situ, Rika mencoba membeli bibit anggur dari penjual keliling pada 2017. Tanaman itu berbuah, tetapi rasanya tetap masam.
“Berbuah memang, tapi rasanya masam. Ada juga yang penanaman anggurnya udah besar. Ternyata masam, jenisnya sama rupanya,” kata Rika, Sabtu (17/1/2026).
Titik balik terjadi ketika Rika menemukan komunitas pecinta anggur Indonesia. Di komunitas tersebut, ia mempelajari teknik budidaya yang tepat, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, hingga sistem perawatan yang sudah dibakukan.
“Di komunitas itu kami saling berbagi ilmu. Jadi anggur itu ternyata bisa dibuat sistemnya,” ujarnya.
Pengetahuan itu membawanya mencoba varietas anggur baru, termasuk anggur Jupiter yang pertama kali menghasilkan buah manis.
Keberhasilan tersebut membuatnya menambah koleksi hingga sekitar 30 varietas. “Satu batang itu satu varian. Jadi beberapa yang adaptif di sini inilah yang dipertahankan,” jelasnya.
Kini, varietas seperti Akademik, Tran, Karneval, Ninel, dan Jupiter tumbuh subur di pekarangannya. Masing-masing memiliki karakter berbeda, baik warna maupun tekstur.
“Akademik itu warnanya hitam dan teksturnya crunchy. Tran warnanya hijau, lebih juicy. Karneval buahnya lonjong merah, sedangkan Ninel bulat merah,” katanya.
Rika menjelaskan perawatan anggur membutuhkan ketelatenan karena tanaman harus rutin dipruning agar berbuah.
“Perawatannya memang agak ribet. Kalau tidak dipruning, dia tidak mau berbuah,” ujar Rika.
Ia menyebut varietas Jupiter paling cocok untuk pemula karena mudah berbuah meski dengan perawatan minimal.
“Kadang tidak dipupuk pun tetap berbuah. Untuk pemula, Jupiter saja dulu,” tambahnya.
Secara waktu, anggur bisa berbuah dalam enam bulan, meski kualitas terbaik dicapai setelah usia tanaman lebih dari satu tahun.
Menurut Rika, tantangan utama datang dari curah hujan tinggi di Pasaman Barat yang membuat tanaman rentan jamur. Untuk itu, ia membuat greenhouse sederhana dengan atap transparan.
“Anggur butuh matahari minimal 6 jam, cuma dia sensitif terhadap air hujan,” katanya.
Hasil panen kini dapat dinikmati untuk konsumsi keluarga, sementara sebagian dijual sekitar Rp120 ribu per kilogram.
Bagi Rika, keberhasilan itu menjadi bentuk kepuasan setelah bertahun-tahun mencoba dan mempelajari teknik budidaya anggur. (CR6)
Editor : Hendra Efison