Proyek yang menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) ini diharapkan menjadi solusi permanen atas permasalahan keselamatan dan kemacetan di jalur ekstrem tersebut.
Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga, Rakhman Taufik, mengungkapkan bahwa saat ini progres pekerjaan telah mencapai 10 persen.
Hal tersebut disampaikannya saat meninjau langsung lokasi proyek Panorama Sitinjaulauik tersebut bersama Direktur Preservasi Jalan dan Jembatan Wilayah I, Hendro Satrio Muhammad Kamaludin.
“Saat ini proses konstruksi sudah berlangsung di jembatan 2. Proyek ini memiliki total panjang pekerjaan 2,8 kilometer, yang terdiri dari 1,8 kilometer pembangunan jalan baru dan 1 kilometer untuk pekerjaan jembatan,” ujar Rakhman Taufik di lokasi proyek, sebagaimana dikutip dari Instagram BPJN Sumbar, Selasa (20/1/2026) malam.
Guna memastikan target waktu terpenuhi, Rakhman menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Ia berharap adanya dukungan penuh dari masyarakat serta Kementerian ATR/BPN untuk mempercepat proses pembebasan lahan.
Dukungan ini dinilai krusial agar cita-cita masyarakat Sumatera Barat memiliki infrastruktur konektivitas yang handal di Sitinjaulauik dapat segera terwujud secara optimal.
Di sisi lain, Kementerian PU memberikan perhatian khusus terhadap operasional jalur nasional Sumatera Barat selama masa konstruksi.
Direktur Preservasi Jalan dan Jembatan Wilayah I, Hendro Satrio Muhammad Kamaludin, menegaskan bahwa pelaksanaan pembangunan infrastruktur ini tidak akan mengganggu pelayanan lalu lintas di jalan eksisting Padang-Solok.
Mengingat jalan nasional sepanjang 2,2 kilometer di lokasi proyek merupakan akses utama yang sering mengalami kemacetan pada jam-jam tertentu, Hendro meminta pihak pelaksana proyek untuk menjaga kondisi jalan lama dengan baik.
“Selama proyek berlangsung, otomatis kendaraan tetap melewati jalur lama. Kami berharap pihak proyek tetap memelihara kondisi jalan eksisting. Jika ada lubang, segera lakukan patching atau penambalan. Jaga juga agar tidak ada genangan air maupun potensi longsoran di ruas tersebut,” tegas Hendro.
Pembangunan Flyover Sitinjaulauik bukan sekadar proyek fisik, melainkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan konektivitas yang aman dan berkelanjutan.
Dengan pengawasan ketat dan berkelanjutan dari Kementerian PU, kehadiran flyover ini diproyeksikan mampu meningkatkan standar keselamatan berkendara di salah satu titik paling rawan di lintas Sumatera tersebut. (cc1)
Editor : Adetio Purtama