Sektor Perikanan Darat di Lambung Bukit Lumpuh Total Usai Galodo November 2025
Mengki Kurniawan• Minggu, 1 Februari 2026 | 15:32 WIB
Kondisi kolam ikan nila milik warga Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pascagalodo November 2025. (foto: Mengki Kurniawan/Padeks)Kerusakan kolam dan irigasi membuat peternak ikan kehilangan mata pencaharian
PADEK.JAWAPOS.COM—Sektor perikanan darat di Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, dilaporkan lumpuh total pasca bencana galodo yang terjadi pada November 2025.
Banjir bandang tersebut menghancurkan kolam ikan air tawar milik warga dan memutus sistem irigasi yang selama ini menjadi penopang utama aktivitas budidaya.
Hingga Minggu (1/2/2026), kolam-kolam ikan masih tertimbun lumpur dan material sisa banjir. Kondisi ini membuat petani ikan nila tidak dapat melanjutkan produksi, sehingga roda ekonomi warga yang bergantung pada sektor perikanan darat berhenti sepenuhnya.
Aris (41), salah seorang pemilik kolam di wilayah tersebut, menyebut galodo akhir 2025 sebagai bencana terparah yang pernah dialami para peternak ikan setempat.
Ia mengatakan kolam yang sebelumnya aktif kini tidak lagi dapat digunakan akibat rusaknya struktur dan terputusnya aliran air bersih.
Bibit dan infrastruktur kolam hilang tersapu banjir
Kerugian yang dialami peternak ikan di Lambung Bukit tergolong besar. Selain kehilangan komoditas ikan, para petani juga kehilangan aset berupa bibit dan infrastruktur kolam yang selama ini menjadi modal utama usaha.
“Saya pribadi mengalami kerugian hingga Rp110 juta. Bahkan, ada rekan sesama pemilik kolam yang rugi sampai Rp150 juta karena skala kolamnya lebih besar,” ujar Aris, Minggu (1/2/2026).
Bencana datang pada waktu yang dinilai paling krusial. Sebagian besar kolam baru saja diisi bibit ikan nila pada September 2025 dan sedang memasuki fase pertumbuhan menuju masa panen.
Galodo yang datang secara tiba-tiba menghanyutkan seluruh ikan beserta harapan petani untuk memulihkan modal usaha.
Lokasi Evakuasi Rusak, Ikan Mati dan Tak Laku Jual
Kondisi semakin memburuk karena tidak adanya lokasi evakuasi yang bisa digunakan saat bencana terjadi.
Kawasan Lubuk Tempurung, yang biasanya menjadi tempat penyelamatan ikan saat banjir, juga rusak parah akibat terjangan banjir bandang.
Akibatnya, ikan-ikan yang terjebak di kolam mati kehabisan oksigen setelah tertimbun lumpur.
Sisa ikan yang bertahan hidup pun mengalami penurunan kualitas signifikan, baik dari segi bobot maupun kondisi fisik.
“Berat ikannya menjadi sangat ringan karena kehabisan oksigen saat banjir terjadi. Untuk konsumsi pribadi pun sudah sulit, apalagi untuk dijual ke pasaran yang menuntut kualitas tertentu,” kata Aris.
Petani Desak Perbaikan Irigasi dan Akses Jalan
Saat ini, para petani ikan sangat bergantung pada langkah pemulihan infrastruktur oleh Pemerintah Kota Padang. Perbaikan saluran irigasi dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak agar suplai air bersih ke kolam kembali normal.
“Harapan kami, jalan dan kali irigasi yang mengalirkan air ke Lambung Bukit dan Gunung Nago segera diperbaiki. Jika irigasi lancar, kami bisa mulai mengisi bibit dan membangun usaha dari awal,” pungkas Aris. (cr3)