Akibat kerusakan tersebut, sekitar 200 kepala keluarga (KK) yang tinggal di satu sisi sungai harus menyeberang menggunakan perahu karet yang disediakan Wali Nagari Pelangai Gadang untuk keperluan sekolah, pasar, dan layanan sehari-hari.
Sementara 500-an KK di seberang sungai juga memanfaatkan perahu karet untuk mengakses kantor Wali Nagari dan Pusat Kesehatan Nagari (Puskesri).
Kondisi itu diungkapkan Novermal, anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan. Menurutnya, jalur alternatif memerlukan perjalanan melingkar hingga empat kilometer ke arah hulu sungai.
"Jembatan itu telah rusak berat sejak tiga tahun lalu. Masyarakat tidak mampu membayar sewa ojek untuk menempuh jalur alternatif tersebut," ungkapnya kepada Padek Jawapos, Kamis (5/2/2026).
Jembatan Sering Dilanda Banjir
Lebih lanjit dijelaskan Novermal, jembatan gantung Pelangai Gadang itu telah beberapa kali terdampak banjir besar. Masyarakat sempat melakukan perbaikan gotong-royong.
Namun, banjir akhir November 2025 membuat lantai jembatan hanyut, sedangkan sling baja penggantung menjuntai ke dasar sungai.
"Jembatan tersebut tidak dapat diperbaiki dan perlu dibangun kembali," katanya.
Pembangunan Kembali Belum Ada Kepastian
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan yang dipimpin Bupati Hendrajoni, telah meninjau lokasi bersama pejabat BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).
*Permohonan pembangunan kembali jembatan telah diajukan ke BNPB dan saat ini menunggu alokasi anggaran dari Kementerian Keuangan," katanya.
Selain Pelangai Gadang, Bupati Pessel juga mengajukan permohonan pembangunan jembatan gantung Koto Pulai di Kecamatan Lengayang dan jembatan gantung Inanang di Kecamatan Batang Kapas.
"Permohonan ini berada di luar usulan R3P (Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana) akibat banjir dan tanah longsor akhir November 2025. Kita berharap jadi perhatian sehingga aktivitas masyarakat bisa normal kembali," harap politisi PAN itu.(*)
Editor : Heri Sugiarto