Reses yang digelar di Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya, Tanahdatar, dan Padangpanjang itu diisi dengan pertemuan bersama alumni Sekolah Istri Teladan (SILO) Sawahlunto untuk menyerap aspirasi terkait keberlanjutan program ketahanan keluarga.
Neldaswenti merupakan Anggota Komisi V DPRD Sumbar yang membidangi pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan dan anak, serta isu sosial.
Pertemuan dengan alumni SILO diikuti peserta dari Kecamatan Silungkang, Lembah Segar, Barangin, dan Talawi.
Untuk Kecamatan Silungkang, Lembah Segar, dan Barangin, kegiatan dipusatkan di Taman Silo Saringan, sedangkan Kecamatan Talawi dilaksanakan pada Kamis (5/2/2026) pagi dengan jumlah peserta lebih banyak.
Dalam dialog tersebut, para alumni menyampaikan apresiasi sekaligus harapan agar program SILO tetap dilanjutkan meski menghadapi keterbatasan anggaran.
Mereka menilai SILO memiliki manfaat nyata dalam membangun keharmonisan rumah tangga di tengah meningkatnya kasus perceraian.
Program SILO Jangkau Seluruh Desa dan Kelurahan
Sekretaris Dinas Sosial PMD PPA Kota Sawahlunto, Yenni Halil, menyampaikan bahwa program SILO resmi diluncurkan pada 26 Juni 2021 dengan delapan desa percontohan.
Sejak 2023, program tersebut telah menjangkau seluruh 27 desa dan 10 kelurahan di Kota Sawahlunto.
“Program ini sangat dirasakan manfaatnya, khususnya bagi kaum perempuan dalam menciptakan keharmonisan keluarga. Kami berharap SILO tetap dilanjutkan dan didukung bersama Ibu Neldaswenti di Komisi V DPRD Sumbar,” ujar Yenni.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak ragu melaporkan jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga.
Program SILO dijalankan pada masa kepemimpinan Wali Kota Sawahlunto Deri Asta dan Wakil Wali Kota Zohirin Sayuti dengan tujuan memperkuat ketahanan keluarga.
Latar Belakang dan Dampak Sosial SILO
Neldaswenti menjelaskan bahwa SILO lahir dari tingginya angka perceraian di Sawahlunto, yang tercatat 123 kasus pada 2019 dan meningkat menjadi 145 kasus pada 2020.
“Nama SILO terinspirasi dari tiga bunker silo batubara di Saringan Sawahlunto yang melambangkan peran istri sebagai pendamping suami, ibu bagi anak, dan anggota masyarakat,” kata Neldaswenti.
Peserta SILO merupakan perempuan menikah berusia maksimal 45 tahun yang memiliki anak remaja dan mengikuti 15 sesi pembelajaran.
Materi mencakup manajemen rumah tangga, komunikasi keluarga, psikologi, hingga pengasuhan anak dengan dukungan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Sawahlunto.
Kepala Dinas DP3A P2KB Provinsi Sumatera Barat, dr. Erlin Sridiani, M.Kes, menyebut program SILO sejalan dengan upaya menekan kekerasan dalam rumah tangga dan stunting.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia, angka stunting di Kota Sawahlunto berada di kisaran 20 persen, meningkat dari sebelumnya 13 persen.
“Yang terpenting adalah mencegah munculnya stunting baru melalui intervensi spesifik dan sensitif dengan kolaborasi semua pihak,” ujar Erlin.(cc1)
Editor : Hendra Efison