PADEK.JAWAPOS.COM--Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kabar duka menyebar dari satu pesan ke pesan lainnya, Rabu, 11 Februari 2026, pukul 13.10 WIB.
Ery Mefri, koreografer besar Minangkabau dan pendiri Nan Jombang Dance Company, berpulang dalam usia 68 tahun.
Dunia seni pertunjukan Indonesia kehilangan salah satu tubuh paling tekun yang pernah “bernyanyi” di atas panggung.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang seniman, melainkan gugurnya satu jiwa yang sepanjang hidupnya merawat tradisi dengan cara yang sunyi, keras, dan penuh keyakinan.
Di tangan Ery, tubuh bukan hanya alat gerak. Tubuh adalah sumber bunyi, ruang tafsir, dan pernyataan kebudayaan.
Ery Mefri lahir di Saniangbaka, Solok, 23 Juni 1958, di tepian Danau Singkarak yang tenang namun menyimpan sejarah panjang pergolakan.
Ia adalah putra dari Jamin Manti Jo Sutan yang kelak dikenal sebagai Maestro Seni Tradisi Minang dan Nurjanah, pengrajin sulaman benang emas.
Dari Abak dan Amaknya, seni bukan sekadar pelajaran, melainkan napas sehari-hari. Ia tumbuh dalam lingkungan yang memuliakan gerak, bunyi, dan ketekunan tangan.
Namun jalan menjadi seniman tidak datang dengan karpet merah. Semasa SMP di Saniangbaka, ia pernah merasakan ketersinggungan yang membekas.
Diganti tiba-tiba saat akan tampil menari dan dianggap tidak mengerti seni oleh seorang pelukis.
Luka kecil itu berubah menjadi “dendam” yang sunyi, bukan dendam untuk menjatuhkan, tetapi untuk membuktikan.
Energi itulah yang kelak menggerakkan seluruh perjalanan kreatifnya.
Selepas SMP pada 1976, ia sempat diarahkan masuk sekolah pertanian dengan iming-iming sepeda motor Astrea 70, simbol kebanggaan anak muda masa itu.
Tetapi Ery memilih jalan yang tak menjanjikan kemewahan. Ia masuk SMKI Padang Panjang, menukar sepeda motor dengan latihan keras dan panggung-panggung kecil.
Selama masa sekolah, ia tercatat mengikuti puluhan pementasan, mengasah tubuhnya dengan disiplin dan kesadaran.
Karier profesionalnya berlanjut bersama Grup Gumarang Sakti pimpinan Gusmiati Suid. Di sana, ia belajar bahwa tradisi tidak untuk dipuja tanpa tafsir. Ia harus dibaca ulang, dipertanyakan, bahkan dibongkar agar tetap hidup.
Dari rahim pengalaman itu lahirlah Nan Jombang Dance Company pada 1983, wadah yang menjadi rumah bagi gagasan-gagasan liarnya tentang tubuh dan tradisi.
Melalui Nan Jombang, Ery mengolah silek, randai, dan berbagai idiom Minangkabau menjadi karya-karya kontemporer yang minimalis namun menghentak.
Ciri khasnya menolak musik eksternal. Tidak ada instrumen pengiring. Para penari menciptakan irama dari tubuh mereka sendiri.
Nyanyian berulang, tepukan tangan, hentakan kaki, pukulan pada dada dan paha, hingga tabuhan pada kain galembong. Tubuh menjadi panggung sekaligus orkestra. Bunyi lahir dari napas dan ketegangan otot.
Pendekatan itu membawanya melintasi batas-batas geografis. Karya-karyanya tampil di Singapura, Jepang, Jerman, Inggris, dan berbagai kota dunia lainnya.
Namun sejauh apapun langkahnya, akarnya tetap menghujam tanah Minangkabau. Ia membuktikan bahwa tradisi tidak beku oleh adat, ia lentur, mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri.
Lebih dari sekadar pencapaian festival, Ery dikenal sebagai guru yang keras dan penuh kesadaran.
Ia membina penari-penari muda dengan disiplin tinggi, menanamkan bahwa gerak harus lahir dari pemahaman, bukan sekadar hafalan.
Perjalanan empat dekade lebih pengabdiannya diabadikan dalam buku Salam Tubuh pada Bumi: Perjalanan 40 Tahun Karya Ery Mefri yang ditulis Hendra Makmur.
Buku itu menjadi pengingat bahwa hidup seorang seniman adalah proses panjang yang ditempa oleh pilihan dan perjuangan.
Kini, tubuh yang selama puluhan tahun membangun lanskap bunyi di panggung itu telah diam. Tetapi jejaknya tak mungkin sunyi. Ia hidup dalam metode, dalam napas para muridnya, dalam setiap hentakan kaki yang tak memerlukan musik untuk berbicara.
Ia hidup dalam keyakinan bahwa tradisi hanya akan bertahan jika terus ditafsirkan oleh tubuh-tubuh yang berani.
Kepergian Ery Mefri meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas seni. Namun seperti karya-karyanya yang selalu lahir dari kesunyian dan perlawanan batin, namanya akan tetap bergema di kampung halaman, di ruang latihan sederhana, hingga di panggung-panggung dunia tempat tubuh pernah ia ajak untuk bernyanyi. (***)
Editor : Hendra Efison