Hingga Kamis (26/2/2026), aktivitas di Terminal Padang masih terlihat lesu. Jumlah penumpang yang biasanya mulai meningkat pada H-10 Lebaran justru belum menunjukkan pergerakan signifikan.
Ketua Bus AKDP Sinamar Kota Padang, Agus, menyebut kondisi tahun ini sangat berbeda dibanding musim mudik sebelumnya. Menurutnya, penurunan jumlah penumpang terjadi cukup drastis dan berdampak langsung pada pendapatan para sopir maupun pengusaha angkutan darat.
Agus menilai faktor utama sepinya penumpang adalah dampak berkepanjangan bencana banjir bandang yang terjadi pada November 2025 lalu. Kerusakan infrastruktur di jalur utama, khususnya kawasan Lembah Anai, membuat mobilitas masyarakat terganggu dan menurunkan minat bepergian menggunakan bus.
Sistem buka-tutup jalan yang masih diterapkan di Lembah Anai menjadi kendala teknis paling dirasakan. Waktu tempuh perjalanan menjadi tidak pasti, sehingga sopir kesulitan mengatur jadwal operasional. Penumpang pun ragu memilih jalur tersebut karena khawatir terjebak antrean panjang.
“Kondisinya saat ini penumpang sangat sepi imbas dari bencana banjir bandang November 2025 lalu. Terlebih lagi jalan di Lembah Anai yang masih buka-tutup menjadi kendala utama kami. Sopir jadi tidak leluasa, dan penumpang pun ragu untuk naik bus,” ujar Agus.
Dari sisi fasilitas jalan, ia menyebut rambu lalu lintas sebenarnya telah terpasang cukup lengkap. Namun, sebagian mengalami kerusakan pascabencana dan belum sepenuhnya diperbaiki. Hal ini dinilai menambah risiko keselamatan bagi pengemudi.
Selain persoalan akses jalan, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar turut memperberat situasi. Agus mengatakan, masalah ini kerap muncul menjelang musim mudik. Ditambah lagi kondisi jalan rusak di sejumlah titik seperti kawasan Kayu Tanam, membuat biaya operasional meningkat.
Senada dengan itu, Beni (51), sopir Bus AKDP Tintin rute Kota Padang–Bukittinggi–Payakumbuh, mengaku pendapatannya merosot tajam. Ia menyebut jumlah penumpang turun hingga 70 persen sejak akses utama di Lembah Anai belum pulih sepenuhnya.
“Jumlah penumpang anjlok bahkan sampai 70 persen sejak bencana itu. Omzet menurun jauh, bahkan terkadang kami harus nombok untuk uang setoran karena pemasukan dari penumpang tidak mencukupi biaya operasional,” keluhnya.
Kemacetan juga masih menjadi persoalan rutin, terutama di titik rawan seperti Padang Panjang, Padang Lua, dan Bukittinggi. Jika ditambah dengan kondisi jalan rusak, waktu tempuh menjadi lebih lama dari biasanya, berdampak pada kelelahan sopir dan kenyamanan penumpang.
Dodi (48), agen Bus Tintin, menilai daya beli dan minat masyarakat untuk mudik menggunakan bus memang sedang berada di titik rendah. Ia berharap pemerintah daerah segera mempercepat perbaikan infrastruktur, khususnya jalur utama di Lembah Anai dan jalur alternatif di Malalak.
Para pelaku usaha transportasi berharap normalisasi akses jalan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk kembali menggunakan bus AKDP. Dengan pulihnya jalur strategis, mereka optimistis arus mudik Lebaran 2026 tetap dapat berjalan lancar dan roda ekonomi transportasi kembali berputar. (cr3)
Editor : Adetio Purtama