Sejumlah pedagang mengaku kondisi pasar saat ini lebih sepi dibandingkan Ramadhan pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan setelah sebelumnya sempat terjadi peningkatan penjualan menjelang awal puasa.
Salah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Alai, Alvio Rizki Delian (30), mengatakan aktivitas jual beli sempat menurun setelah bencana melanda Sumatera Barat beberapa waktu lalu.
Ia menyebutkan saat masa pasca-bencana, pembelian oleh masyarakat secara perorangan memang menurun, tetapi pembelian kebutuhan pokok oleh para donatur untuk korban terdampak sempat membantu penjualan pedagang.
Namun setelah pergantian tahun, aktivitas perdagangan kembali melemah hingga memasuki bulan Ramadhan.
“Tahun baru itu jual beli sudah mulai melemah, sekarang ini bisa dibilang yang paling sepi. Kalau yang bisa dibilang lumayan ramai itu seminggu sebelum puasa sampai minggu pertama puasa, sekarang sudah sepi pasarnya,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Menurut Alvio, kondisi tersebut dipengaruhi daya beli masyarakat yang menurun di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
Ia menjelaskan harga beras mengalami peningkatan sejak terjadinya bencana banjir di Sumatera Barat karena sebagian petani mengalami gagal panen sehingga persediaan menipis sementara permintaan tetap tinggi.
“Kalau beras dari siap banjir itu ada peningkatan harga terus karena banjir kemarin banyak menyebabkan gagal panen kan. Jadi karena persediaan menipis sedangkan permintaan banyak itu menyebabkan harga naik,” jelasnya.
Meski saat ini aktivitas perdagangan terbilang sepi, Alvio berharap penjualan dapat kembali meningkat menjelang Lebaran seperti yang biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Pedagang sayur dan rempah di Pasar Alai, Sri Wahyuni (40), juga menyampaikan hal serupa terkait kondisi perdagangan selama Ramadhan tahun ini.
Ia menilai transaksi jual beli di pasar tersebut tidak jauh berbeda dengan hari biasa dan bahkan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Ramadhan pada tahun sebelumnya.
“Kalau penjualan sekarang di Pasar Alai ini biasa-biasa aja, bisa dibilang tidak ada bedanya seperti hari biasa karena memang uang masyarakat itu lagi kesulitan mungkin ya karena musibah banjir kemarin,” katanya.
Menurut Sri, kenaikan harga dari pengepul membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual agar tetap memperoleh keuntungan, meskipun kenaikan yang dilakukan masih dalam batas wajar.
Ia memperkirakan omzet penjualan selama Ramadhan tahun ini berkurang hingga sekitar separuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang telur dan ayam di Pasar Alai, Eka Anggraini (40), yang menyebutkan penjualan selama Ramadhan 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, penurunan tersebut dipengaruhi bertambahnya jumlah pedagang serta kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit.
Eka menjelaskan harga telur saat ini berada pada kisaran Rp58.000 hingga Rp60.000 per papan tergantung ukuran, sementara pada periode menjelang Lebaran biasanya harga bisa meningkat hingga sekitar Rp62.000.
Ia menambahkan kenaikan harga telur juga dipengaruhi tingginya permintaan dari berbagai sektor sehingga berdampak pada stabilnya harga di tingkat pedagang.
Meskipun demikian, para pedagang masih berharap aktivitas jual beli di Pasar Alai dapat meningkat menjelang Lebaran seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.(*)
Editor : Hendra Efison