Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Alex Indra Lukman Tantang Penyuluh Sumbar Genjot Produktivitas Padi 2026 dengan Sawah Pokok Murah

Hendra Efison • Minggu, 8 Maret 2026 | 13:59 WIB

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menantang penyuluh pertanian Sumbar tingkatkan produktivitas padi 2026 melalui metode Sawah Pokok Murah dan dukungan APBN 2.000 Ha.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menantang penyuluh pertanian Sumbar tingkatkan produktivitas padi 2026 melalui metode Sawah Pokok Murah dan dukungan APBN 2.000 Ha.
PADEK.JAWAPOS.COM – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menantang penyuluh pertanian se-Sumatera Barat untuk mewujudkan peningkatan produktivitas padi pada 2026 melalui penerapan metode Sawah Pokok Murah.

Tantangan itu disampaikan Alex saat bersilaturahmi sekaligus buka puasa bersama penyuluh pertanian se-Sumatera Barat di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore.

Dalam kegiatan tersebut hadir perwakilan penyuluh dari Kota Padang, Kabupaten Dharmasraya, Pesisir Selatan, dan Agam, serta Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti beserta jajaran.

Alex menjelaskan, petani inovatif di Sumatera Barat telah memiliki metode teruji untuk meningkatkan produktivitas padi, yakni melalui sistem budidaya Sawah Pokok Murah.

Menurutnya, pemerintah pusat juga telah menyiapkan dukungan melalui alokasi bantuan dari APBN Tahun 2026 untuk pengembangan sawah seluas 2.000 hektare bagi petani di Sumatera Barat.

“Jika jatah ini direalisasikan, Insya Allah produktivitas itu mampu diwujudkan sehingga petani Sumbar tercatat sebagai penghasil beras dengan biaya produksi rendah di Indonesia,” ujar Alex.

Ia menjelaskan, persoalan biaya produksi menjadi faktor penting dalam menentukan harga jual beras di pasar.

Hal itu disampaikan Alex dengan menyoroti kondisi stok beras nasional yang tersimpan di gudang Bulog per 22 Desember 2025 yang telah mencapai 3,5 juta ton, angka yang disebutnya sebagai yang terbesar sepanjang sejarah.

Alex mempertanyakan strategi pemanfaatan stok tersebut apabila produktivitas panen terus meningkat sementara tingkat konsumsi relatif tetap.

“Pertanyaannya, jika produktivitas panen terus ditingkatkan sementara konsumsi tetap, maka stok cadangan beras kita ini mau diapakan,” katanya.

Menurut Alex, peluang ekspor juga belum mudah dilakukan karena beras Indonesia masih kalah bersaing dengan beras dari Vietnam yang memiliki harga lebih murah.

Ia mencontohkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual Rp12.500 per kilogram dengan tingkat patahan atau menir sekitar 25–40 persen.

Sementara itu, beras asal Vietnam dijual sekitar Rp10.000 per kilogram dengan kadar broken hanya sekitar 5 persen.

“Jelas, kondisi ini tak akan mampu membuat beras kita bersaing menembus pasar global,” tegasnya.

Alex menyebut satu-satunya cara agar harga beras nasional menjadi lebih kompetitif adalah dengan menekan biaya produksi di tingkat petani.

Ia menjelaskan metode Sawah Pokok Murah dapat mengurangi biaya produksi secara signifikan karena tidak memerlukan biaya pengolahan tanah, pemupukan, penyiangan gulma, maupun penyemprotan hama.

Metode tersebut telah diuji melalui demplot oleh penemunya, Ir Djoni, bersama petani di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat.

Menurut Alex, hasilnya menunjukkan produktivitas yang lebih unggul dibanding metode budidaya padi yang selama ini digunakan petani.

Dalam kesempatan itu Alex juga menyinggung jumlah penyuluh pertanian di Indonesia yang mencapai lebih dari 38 ribu orang.

Pada 2026, kata dia, pemerintah akan menyalurkan bantuan kendaraan operasional berupa sepeda motor bagi penyuluh pertanian, meskipun jumlah yang tersedia baru sekitar 10.000 unit.

Alex menilai penyuluh pertanian merupakan pahlawan di balik keberhasilan swasembada beras yang dicapai Kementerian Pertanian pada 2025.

Ia juga menegaskan kesejahteraan penyuluh harus menjadi perhatian jika pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan petani melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram.

Alex menambahkan, ia akan memperjuangkan agar penyuluh hama juga ditarik menjadi pegawai pemerintah pusat sebagaimana penyuluh pertanian yang telah diwujudkan sejak tahun lalu.

Menurutnya, peran penyuluh hama sangat vital dalam mendukung keberhasilan produksi pertanian meskipun jumlahnya tidak sebanyak penyuluh pertanian.(*)

Editor : Hendra Efison
#produktivitas padi Sumatera Barat #alex indra lukman #penyuluh pertanian 2026 #Sawah Pokok Murah