PADEK.JAWAPOS.COM-Eskalasi konflik geopolitik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran yang masih memanas di kawasan Timur Tengah dinilai sebagai peluang strategis bagi Indonesia, khususnya Sumatera Barat untuk memposisikan diri sebagai destinasi investasi dan pariwisata aman bagi investor dan wisatawan global.
Wakil Ketua Umum Kadin Sumbar Bidang Pariwisata, M Zuhrizul, menegaskan bahwa pergeseran sentimen keamanan dunia saat ini menjadi momentum krusial bagi pemerintah pusat dan daerah untuk menarik investor mancanegara yang mencari stabilitas ekonomi di luar wilayah konflik.
Khusus Sumbar, urgensi penarikan modal asing itu semakin nyata mengingat performa ekonomi Sumatera Barat yang mengalami perlambatan cukup dalam pada beberapa tahun terakhir. Data terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi provinsi ini terkoreksi ke angka 3,37 persen pada tahun 2025, turun signifikan dibandingkan pencapaian 4,36 persen pada periode 2024.
"Penurunan produktivitas ini diperparah oleh dampak bencana alam masif pada November 2025 yang menuntut alokasi anggaran besar untuk rehabilitasi infrastruktur serta pemulihan akses ke berbagai destinasi wisata yang mengalami kerusakan," kata Zuhrizul kepada Padang Ekspres, Kamis (2/4/2026).
Untuk mengeksekusi peluang ini, Zuhrizul mendorong pentingnya pembentukan tim khusus oleh pemerintah pusat dan daerah yang bertugas melakukan penetrasi pasar secara agresif.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat didorong untuk membuka kembali database mitra Timur Tengah yang selama ini telah menjalin kerja sama dan komunikasi formal. Langkah ini termasuk mengaktivasi kembali jejaring diplomasi para perantau Minang yang memiliki pengaruh di negara-negara yang selama ini aktif berinvestasi di Timur Tengah untuk mengalihkan fokus mereka ke Sumatera Barat.
"Leading sektor yang perlu mengkaji dan mengeksekusi peluang ini adalah Bappeda, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan Dinas Pariwisata serta Badan Penghubung Provinsi Sumatera Barat," kata Zuhrizul.
Lebih lanjut dijelaskan Zuhrizul, investor yang selama ini berinvestasi di Timur Tengah maupun wisatawan dengan daya beli tinggi kini sangat selektif dalam memilih lokasi berdasarkan parameter keamanan keluarga dan keberlanjutan aset.
Kondisi Timur Tengah yang tidak menentu membuat mereka cenderung merelokasi investasi ke negara yang memiliki stabilitas sosial tinggi seperti Indonesia.
"Sumatera Barat, dengan potensi kekayaan alam dan budaya yang unik serta destinasi wisata terbaik salah satunya Mentawai, memiliki kapasitas untuk menangkap segmentasi wisatawan premium yang mengutamakan privasi dan rasa aman dalam menghabiskan waktu bersama keluarga. Peluang ini harus ditangkap dengan cepat," tambahnya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan karpet merah bagi investor melalui kemudahan regulasi dan kepastian hukum serta database potensi investasi yang lengkap guna memulihkan tren pertumbuhan ekonomi daerah ke jalur positif.
"Konektivitas udara dari Timur Tengah maupun akses lewat Singapura dan Kualalumpur yang relatif singkat dibandingkan destinasi lain di Indonesia, memberikan keunggulan komparatif bagi Sumbar dalam membidik pasar Timur Tengah ini," kata Zuhrizul.
Dampak positif dari peningkatan investasi dan kunjungan wisata ini, kata Zuhrizul, akan menciptakan multiplier effect yang luas bagi masyarakat lokal dan pendapatan daerah.
Secara ekonomi, peningkatan arus modal akan membuka lapangan kerja baru di sektor konstruksi, perhotelan, dan ekonomi kreatif, yang secara otomatis meningkatkan daya beli masyarakat yang terkoreksi pascabencana dan efisiensi anggaran pemerintah.
"Bagi daerah, peningkatan aktivitas ekonomi ini akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pajak dan retribusi, yang kemudian dapat dialokasikan kembali untuk pembangunan fasilitas publik," pungkas Zuhrizul.(*)
Editor : Heri Sugiarto