PADEK.JAWAPOS.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Padangpanjang melaporkan adanya 17.073 sambaran petir yang terjadi di wilayah Sumatera Barat selama periode 24 hingga 30 April 2026.
Aktivitas petir tersebut distribusinya tidak merata karena dipengaruhi kondisi topografi dan dinamika atmosfer lokal.
Menurut laporan resmi yang dirilis BMKG pada Jumat (1/5/2026), kerapatan sambaran petir tertinggi terpantau di lima daerah, yakni Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, dan Limapuluh Kota.
"Wilayah-wilayah ini dikenal memiliki kontur perbukitan yang memicu pembentukan awan konvektif akibat pemanasan permukaan," tulis BMKG dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Selain daerah utara dan tengah yang berkontur perbukitan, BMKG juga mencatat aktivitas petir cukup signifikan di wilayah Pesisir Selatan.
Kondisi ini terjadi akibat interaksi angin darat dan angin laut yang memperkuat proses pembentukan awan hujan.
Sementara itu, wilayah tengah Sumbar tercatat memiliki intensitas sedang, dan Kepulauan Mentawai menunjukkan aktivitas yang relatif rendah.
BMKG mengimbau masyarakat di Sumatera Barat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, terutama pada periode peralihan musim.
“Jika terdengar bunyi guntur dan terlihat kilatan petir, segera cari tempat aman dan hindari aktivitas di ruang terbuka,” tambah BMKG.
Penjelasan Ilmiah dari BMKG: Mengapa Petir Terjadi?
BMKG menjelaskan bahwa petir merupakan fenomena alam yang terjadi akibat proses pelepasan muatan listrik di atmosfer. Proses ini muncul ketika terdapat konsentrasi muatan positif dan negatif dalam awan, atau antara awan dengan permukaan bumi.
“Pelepasan muatan listrik tersebut bersifat sangat singkat (transien), memiliki arus yang sangat tinggi, dan panjangnya dapat mencapai beberapa kilometer,” tulis BMKG.
Fenomena ini umumnya meningkat pada musim hujan, serta pada wilayah yang berada antara pegunungan dan lautan.
Pada kondisi tersebut, udara mengandung kadar air lebih tinggi sehingga daya isolasinya menurun, memungkinkan arus listrik mengalir lebih mudah.
BMKG menambahkan bahwa karena awan dapat membawa muatan berbeda, petir juga dapat terjadi antar awan, bukan hanya antara awan dan permukaan bumi.(*)
Editor : Heri Sugiarto