Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

OJK: Sektor Jasa Keuangan Sumbar Tumbuh Solid, Kredit Tembus Rp75,50 Triliun pada Maret 2026

Hendra Efison • Jumat, 22 Mei 2026 | 21:49 WIB
Kepala OJK Provinsi Sumatera Barat, Roni Nazra.
Kepala OJK Provinsi Sumatera Barat, Roni Nazra.

PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Barat mencatat sektor jasa keuangan di Sumbar tetap tumbuh solid hingga Maret 2026 dengan total penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp75,50 triliun. Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi daerah terus bergerak positif di tengah tantangan ekonomi nasional dan global.

Kepala OJK Provinsi Sumatera Barat, Roni Nazra, mengatakan pertumbuhan sektor jasa keuangan sejalan dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar triwulan I-2026 yang tumbuh sebesar 5,02 persen secara year on year (yoy).

“Pertumbuhan sektor jasa keuangan tetap terjaga dan berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah,” ujar Roni Nazra di Padang, Jumat (22/5/2026).

Data OJK menunjukkan total aset perbankan di Sumatera Barat pada posisi Maret 2026 mencapai Rp86,74 triliun atau tumbuh 3,77 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pep Guardiola Tinggalkan Manchester City Setelah Satu Dekade Meraih 20 Trofi

Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp62,92 triliun atau tumbuh 9,24 persen (yoy), sedangkan total penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp75,50 triliun atau tumbuh 2,98 persen (yoy).

Dari sisi kualitas kredit, rasio Non Performing Loan (NPL) masih berada pada level aman sebesar 2,78 persen, meskipun sedikit meningkat dibanding Maret 2025 yang berada di angka 2,51 persen.

Penyaluran kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp30,87 triliun atau sekitar 40,89 persen dari total kredit perbankan di Sumbar. Namun, kredit UMKM tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,08 persen dibanding tahun sebelumnya.

Baca Juga: Listrik Padam di Sumatera, PLN Turunkan Tim Teknis Pemulihan

Perbankan Syariah dan Pasar Modal Tumbuh Signifikan

OJK juga mencatat pertumbuhan positif pada sektor perbankan syariah di Sumatera Barat.

Hingga Maret 2026, total aset perbankan syariah mencapai Rp14,84 triliun atau tumbuh 13,30 persen (yoy). Sementara penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp11,27 triliun atau naik 3,04 persen dan penyaluran pembiayaan mencapai Rp12,71 triliun atau tumbuh 14,68 persen (yoy).

Risiko pembiayaan syariah juga masih terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 1,75 persen, meskipun sedikit meningkat dibanding posisi tahun sebelumnya sebesar 1,49 persen.

Di sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR), baik konvensional maupun syariah, pertumbuhan juga masih positif.

Total aset BPR mencapai Rp2,93 triliun atau tumbuh 7,17 persen (yoy), dengan penghimpunan DPK sebesar Rp2,11 triliun dan penyaluran kredit atau pembiayaan sebesar Rp2,26 triliun.

Menariknya, sekitar 70,99 persen pembiayaan BPR disalurkan kepada sektor UMKM, menunjukkan peran penting BPR dalam mendukung ekonomi kerakyatan di daerah.

Selain itu, pertumbuhan investor pasar modal di Sumbar juga meningkat tajam. Jumlah Single Investor Identification (SID) hingga Maret 2026 mencapai 395.768 investor atau melonjak 97,15 persen dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah investor reksa dana menjadi yang tertinggi dengan 379.212 SID atau tumbuh 99,80 persen. Sementara investor saham tercatat sebanyak 135.455 SID atau tumbuh 39,37 persen.

Industri Keuangan Nonbank dan Edukasi Keuangan Menguat

Pada sektor Industri Keuangan Nonbank (IKNB), perusahaan pembiayaan mencatat total penyaluran pembiayaan sebesar Rp5,96 triliun atau tumbuh 6,26 persen (yoy).

Risiko pembiayaan juga membaik dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 2,37 persen atau lebih rendah dibanding periode sebelumnya.

Sementara itu, perusahaan dana pensiun di Sumbar mencatat total aset sebesar Rp2,79 triliun atau tumbuh 8,78 persen, meskipun jumlah peserta sedikit terkontraksi sebesar 0,17 persen menjadi 4.769 peserta.

Untuk perusahaan modal ventura, nilai penyertaan modal tercatat sebesar Rp50,78 miliar atau mengalami kontraksi 7,54 persen (yoy).

Sedangkan perusahaan penjaminan yang berkantor pusat di Sumbar membukukan total aset sebesar Rp443,03 miliar atau tumbuh 0,84 persen dibanding tahun sebelumnya.

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan total aset mencapai Rp6,98 miliar atau naik 2,19 persen. Penyaluran pembiayaan tumbuh 10,54 persen menjadi Rp2,68 miliar dengan jumlah debitur mencapai 964 orang.

Selain penguatan sektor jasa keuangan, OJK Sumbar juga terus meningkatkan edukasi dan perlindungan konsumen.

Sepanjang Maret 2026, OJK Sumbar telah melaksanakan lima kegiatan edukasi langsung dan lima edukasi digital yang menyasar masyarakat umum, pelaku UMKM, hingga mahasiswa dan pelajar.

Di bidang perlindungan konsumen, OJK menerima 192 pengaduan masyarakat melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK).

Pengaduan terbanyak berkaitan dengan restrukturisasi kredit, perilaku petugas penagihan, fraud eksternal, serta Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

OJK berharap penguatan edukasi dan pengawasan dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di Sumatera Barat agar tetap sehat dan berkelanjutan.(*)

Editor : Hendra Efison
#Perbankan syariah Sumbar #kredit perbankan Sumbar #sektor jasa keuangan Sumbar #investor pasar modal sumbar #OJK Sumbar