PADEK.JAWAPOS.COM– BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Padangpanjang mencatat sebanyak 20 kejadian gempa Sumbar selama periode 5 hingga 11 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, satu gempa berkekuatan Magnitudo 4,5 dirasakan masyarakat di Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman, dan Kota Pariaman.
Data aktivitas kegempaan itu dirilis BMKG pada Jumat (12/6/2026) berdasarkan hasil pemantauan di wilayah Padang Geofisika Regional (PGR) VI. Seluruh aktivitas seismik yang terekam berasal dari pengaruh pergerakan lempeng di zona subduksi serta aktivitas Sesar Sumatera.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Padangpanjang, Suaidi Ahadi, mengatakan karakter kegempaan di Sumatera Barat masih didominasi dua sumber utama tersebut. Kondisi itu membuat aktivitas gempa terus terjadi dengan variasi magnitudo dan kedalaman yang berbeda.
“Gempa bumi yang terjadi di wilayah PGR VI disebabkan oleh aktivitas pergerakan lempeng di zona subduksi dan aktivitas Sesar Sumatera,” ujar Suaidi.
Gempa Sumbar Didominasi Magnitudo di Bawah 5
Berdasarkan statistik BMKG, sebanyak 11 gempa memiliki magnitudo di bawah 3. Sementara itu, sembilan gempa lainnya berkekuatan antara magnitudo 3 hingga 5.
Selama periode pemantauan tersebut, tidak ada gempa yang melampaui magnitudo 5. Gempa terbesar tercatat berkekuatan M4,7, sedangkan gempa terkecil memiliki magnitudo 2,1.
Data tersebut menunjukkan aktivitas seismik di Sumatera Barat masih berada dalam kategori yang umum terjadi di kawasan yang berada dekat dengan jalur subduksi dan sesar aktif. Meski demikian, BMKG terus melakukan pemantauan intensif untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas kegempaan.
Selain magnitudo, BMKG juga mencatat variasi kedalaman gempa yang cukup beragam. Faktor kedalaman menjadi salah satu penentu apakah getaran gempa dapat dirasakan masyarakat atau tidak.
Mayoritas Gempa Berasal dari Kedalaman Dangkal
BMKG mencatat sebanyak 18 gempa terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Kondisi ini menunjukkan mayoritas aktivitas seismik dalam sepekan terakhir berasal dari lapisan kerak bumi yang relatif dangkal.
Sementara itu, dua gempa lainnya terjadi pada kedalaman antara 60 hingga 300 kilometer. Kedalaman maksimum yang tercatat mencapai 174 kilometer, sedangkan kedalaman paling dangkal hanya tiga kilometer dari permukaan bumi.
Gempa dangkal umumnya berpotensi menghasilkan getaran yang lebih terasa dibandingkan gempa dalam dengan magnitudo yang sama. Namun dampak yang ditimbulkan tetap bergantung pada lokasi episenter, kondisi geologi setempat, serta jarak terhadap permukiman penduduk.
BMKG menilai pemahaman masyarakat terhadap karakteristik gempa menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana. Edukasi kebencanaan terus dilakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi gempa yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Gempa M4,5 Dirasakan di Padang dan Pariaman
Satu-satunya gempa yang dirasakan masyarakat selama periode pemantauan terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 13.39 WIB. Gempa tersebut berkekuatan Magnitudo 4,5 dan berpusat sekitar 28 kilometer arah selatan Padangpariaman.
BMKG mencatat pusat gempa berada pada koordinat 0,88 derajat Lintang Selatan dan 100,25 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 68 kilometer. Getaran dirasakan di Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman, dan Kota Pariaman.
Tingkat guncangan berada pada skala II hingga III MMI atau Modified Mercalli Intensity. Pada skala tersebut, getaran dapat dirasakan oleh sejumlah orang di dalam rumah dan sebagian masyarakat yang sedang beraktivitas di luar ruangan.
BMKG mengimbau masyarakat Sumatera Barat untuk selalu mengakses informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG guna memperoleh data kegempaan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemantauan aktivitas seismik terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi dan perlindungan masyarakat dari risiko bencana gempa bumi.
Melalui sistem pemantauan yang beroperasi selama 24 jam, BMKG berkomitmen menyediakan informasi cepat dan akurat guna mendukung keselamatan masyarakat di wilayah rawan gempa, termasuk Sumatera Barat yang berada di jalur aktif tektonik Indonesia.(*)
Editor : Hendra Efison