Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perang Manggopoh 1908, Perlawanan Rakyat Minangkabau yang Dipimpin Mandeh Siti Melawan Pajak Belanda

Hendra Efison • Selasa, 16 Juni 2026 | 10:10 WIB
Prosesi tabur bunga mewarnai peringatan 117 Tahun Perang Manggopoh di Kabupaten Agam, Senin (15/6/2026).
Prosesi tabur bunga mewarnai peringatan 117 Tahun Perang Manggopoh di Kabupaten Agam, Senin (15/6/2026).

AGAM, PADEK.JAWAPOS.COM – Perang Manggopoh menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan rakyat Minangkabau melawan penjajahan Hindia Belanda. Peristiwa yang meletus pada 15 Juni 1908 di Nagari Manggopoh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu lahir dari penolakan masyarakat terhadap kebijakan belasting atau pajak yang diberlakukan pemerintah kolonial.

Saat itu, Belanda berupaya memperkuat kekuasaan di wilayah Minangkabau dengan menerapkan berbagai aturan baru, termasuk pungutan pajak kepada masyarakat. Kebijakan tersebut memicu kemarahan rakyat karena dianggap memberatkan dan bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dianut masyarakat setempat.

Penolakan tidak hanya muncul dari kalangan pemuka adat dan ulama. Masyarakat biasa juga ikut bergerak menentang kebijakan kolonial yang dinilai semakin menekan kehidupan ekonomi rakyat.

Ketegangan yang terus meningkat akhirnya berubah menjadi perlawanan terbuka. Rakyat Manggopoh memilih mengangkat senjata dan melakukan perlawanan terhadap aparat kolonial Belanda yang bertugas memungut pajak.

Mandeh Siti Manggopoh di Garis Depan Perlawanan

Salah satu tokoh yang paling dikenang dalam Perang Manggopoh adalah Mandeh Siti Manggopoh. Sosok perempuan Minangkabau itu dikenal karena keberaniannya memimpin dan mengorganisasi perlawanan rakyat terhadap penjajah.

Di tengah dominasi laki-laki dalam medan perang pada masa itu, Mandeh Siti tampil sebagai pemimpin yang mampu membangkitkan semangat juang masyarakat. Namanya kemudian menjadi simbol keberanian perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bersama para pejuang lainnya, Mandeh Siti menyusun strategi untuk menghadapi pasukan kolonial. Dalam sejumlah catatan sejarah, serangan yang dilakukan rakyat Manggopoh sempat membuat pemerintah Belanda mengalami kerugian dan kehilangan sejumlah personel.

Namun kekuatan persenjataan yang tidak seimbang membuat perlawanan rakyat akhirnya dapat dipatahkan. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran untuk menangkap para tokoh yang terlibat dalam gerakan tersebut.

Satu Rangkaian dengan Perang Kamang

Sejarawan menyebut Perang Manggopoh tidak berdiri sendiri. Peristiwa itu menjadi bagian dari gelombang perlawanan rakyat Agam yang juga terjadi di wilayah Kamang dalam periode yang hampir bersamaan.

Karena itu, Perang Manggopoh dan Perang Kamang sering disebut sebagai satu kesatuan gerakan rakyat Minangkabau dalam menentang kolonialisme Hindia Belanda. Keduanya lahir dari semangat yang sama, yakni mempertahankan martabat masyarakat dan menolak kebijakan yang dianggap tidak adil.

Meski berlangsung lebih dari satu abad lalu, nilai-nilai yang terkandung dalam Perang Manggopoh masih relevan hingga kini. Keberanian, persatuan, pengorbanan, dan semangat melawan ketidakadilan menjadi warisan penting yang terus dikenang masyarakat Sumatera Barat.

Setiap 15 Juni, masyarakat Kabupaten Agam memperingati Perang Manggopoh sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi mempertahankan harga diri bangsa. Peringatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan keadilan yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan panjang para pendahulu. 

Pada peringatan 117 Tahun Perang Manggopoh yang digelar di Lapangan GOR Buya Hamka, Manggopoh, Senin (15/6/2026), Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy mengingatkan bahwa perjuangan rakyat Manggopoh tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah semata.

Menurutnya, nilai keberanian, persatuan, dan pengorbanan yang diwariskan para pejuang harus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal menegaskan bahwa Perang Manggopoh yang meletus pada 15 Juni 1908 merupakan bukti nyata keberanian rakyat Minangkabau dalam melawan ketidakadilan kolonial.

Ia menyebut perlawanan terhadap kebijakan belasting atau pajak Belanda tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa dan perlu terus dikenalkan kepada generasi penerus agar tidak kehilangan akar sejarah serta jati dirinya.

Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Perang Manggopoh merupakan simbol keteguhan rakyat Minangkabau dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan. Kisah perjuangan itu terus hidup sebagai inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai tanah air serta berani memperjuangkan kebenaran di setiap zaman.(*)

Editor : Hendra Efison
#Perang Manggopoh #Mandeh Siti Manggopoh #sejarah Perang Manggopoh #pajak Belanda di Minangkabau #pahlawan Sumatera Barat