BUKITTINGGI, PADEK.JAWAPOS.COM– Jam Gadang menjadi pusat perhatian dalam Seminar Internasional bertema hubungan diplomatik Indonesia–Belanda yang digelar di Bung Hatta Convention Hall, Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026).
Forum peringatan 100 tahun ikon kota itu kembali mengangkat perdebatan lama mengenai penggunaan putih telur sebagai bahan perekat konstruksi.
Direktur Keuangan PT Semen Padang Iskandar Z Lubis menegaskan bahwa kekuatan Jam Gadang justru lahir dari teknologi beton bertulang dan kualitas rekayasa bangunan yang mampu bertahan di wilayah rawan gempa Sumatera Barat.
Mitos Putih Telur dan Sejarah Jam Gadang Bukittinggi
Dalam diskusi seminar internasional tersebut, narasi penggunaan putih telur pada pembangunan Jam Gadang kembali mendapat sorotan.
Sejumlah pakar menilai cerita tersebut lebih tepat dipahami sebagai folklor yang berkembang di masyarakat, bukan fakta teknis konstruksi.
Penjelasan juga menyinggung perbandingan dengan Menara Big Ben di London yang kerap dianggap serupa, padahal memiliki mekanisme mesin berbeda.
Ahli dan narasumber menekankan pentingnya pemahaman sejarah berbasis riset agar publik memperoleh gambaran akurat mengenai Jam Gadang sebagai ikon Bukittinggi.
Seminar yang menghadirkan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon sebagai keynote speaker juga diisi panel diskusi bersama Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal, Diplomat Kementerian Luar Negeri Albert Abdi, serta Ahli Utama Kementerian Pariwisata Nia Niscaya. Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi ASEAN Universitas Andalas Muhammad Yusra bertindak sebagai moderator.
Para narasumber menekankan bahwa penguatan narasi sejarah perlu selaras dengan data ilmiah agar warisan budaya Sumatera Barat dapat dipahami secara utuh dan kredibel.
Penelitian Beton Bertulang dan Ketahanan Seismik Jam Gadang
Penelitian akademik yang dirujuk dalam forum tersebut menyoroti ketahanan struktur Jam Gadang setelah rangkaian gempa besar Sumatera pada 2007 dan 2009.
Kajian yang disusun oleh Khadavi dan Yulcherlina dari Universitas Bung Hatta dalam Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil 2018 mengungkap bahwa bangunan tidak mengalami kerusakan struktural signifikan.
Kondisi ini mendorong analisis lebih dalam mengenai sistem konstruksi dan tingkat keandalan bangunan bersejarah tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan teknologi beton bertulang pada Jam Gadang dengan tulangan baja pada elemen struktur utama seperti kolom, balok, dan pelat lantai.
Kuat tekan beton tercatat mencapai sekitar 25 megapascal yang masih relevan dengan standar konstruksi modern.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa teknologi konstruksi pada masa 1926 sudah cukup maju, terlebih dengan keberadaan industri semen di Sumatera Barat sejak berdirinya pabrik Indarung pada 1910 oleh PT Semen Padang, yang turut mendukung perkembangan material bangunan pada era tersebut.
Warisan Sejarah dan Potensi Wisata Heritage Sumatera Barat
Selain aspek teknis, diskusi dalam seminar juga menyoroti potensi Jam Gadang sebagai bagian dari pengembangan wisata warisan budaya Sumatera Barat.
Iskandar Z Lubis mendorong integrasi rute wisata yang menghubungkan Sawahlunto sebagai Warisan Dunia UNESCO, kawasan Indarung I sebagai cagar budaya nasional, serta Pelabuhan Teluk Bayur sebagai simpul perdagangan historis.
Konsep ini dipandang mampu menghadirkan narasi utuh perjalanan industrialisasi di Sumatera Barat.
Kajian ilmiah yang dipaparkan juga menegaskan tidak adanya indikasi kerusakan pondasi maupun penurunan struktur yang signifikan pada Jam Gadang.
Fokus konservasi lebih diarahkan pada pelestarian elemen arsitektur, pembatasan beban kunjungan, serta pemantauan berkala kondisi bangunan.
Di sisi lain, perbandingan dengan Big Ben serta penjelasan mengenai mekanisme jam produksi Jerman turut meluruskan persepsi publik.
Memasuki usia satu abad, Jam Gadang tetap berdiri sebagai simbol ketahanan, ilmu pengetahuan, dan sejarah panjang Sumatera Barat.(*)
Editor : Hendra Efison