Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dugaan Ledakan di MAN 3 Padang Jadi Alarm Bullying, Psikolog Minta Sekolah Bangun Sistem Pencegahan

Endang Pribadi • Selasa, 14 Juli 2026 | 22:50 WIB
Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP
Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP

PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM – Kasus dugaan ledakan benda yang diduga bom rakitan di lingkungan MAN 3 Padang yang menyeret seorang siswa sebagai terduga pelaku kembali menyoroti bahaya perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Informasi yang berkembang menyebut dugaan tindakan tersebut dipicu tekanan psikologis akibat perundungan yang dialami pelaku, namun motif itu masih menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian dan belum ditetapkan sebagai penyebab pasti.

Peristiwa tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa bullying bukan lagi sekadar kenakalan remaja.

Berbagai penelitian menunjukkan perundungan yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental anak hingga memengaruhi perilaku dan kehidupan sosialnya.

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP, mengatakan pencegahan bullying harus menjadi perhatian utama seluruh satuan pendidikan.

Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya memberikan sanksi kepada pelaku, tetapi juga harus membangun budaya yang menghargai perbedaan dan menumbuhkan empati.

"Bullying tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghukum pelaku. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya empati di sekolah sehingga setiap anak mampu menghargai perbedaan, saling menghormati, dan memahami dampak dari perilaku yang menyakiti teman sebayanya," ujar Neny.

Ia menjelaskan, dampak bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kecemasan, depresi, penurunan prestasi belajar, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga dalam kondisi tertentu memicu tindakan berisiko.

Karena itu, setiap dugaan kasus yang berkaitan dengan perundungan perlu menjadi bahan evaluasi bagi dunia pendidikan.

Sekolah Diminta Miliki Sistem Pencegahan yang Jelas

Neny menilai sekolah perlu memiliki sistem pencegahan dan penanganan bullying yang terstruktur.

Langkah tersebut mencakup kebijakan anti-perundungan, mekanisme pelaporan yang aman bagi korban maupun saksi, serta layanan konseling yang mudah diakses peserta didik.

"Korban sering kali memilih diam karena takut mendapat intimidasi atau tidak dipercaya. Karena itu, sekolah harus menyediakan ruang yang aman agar siswa berani melapor tanpa rasa takut. Setiap laporan juga harus ditindaklanjuti secara profesional dan tidak dianggap sebagai persoalan sepele," katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kehadiran guru di lokasi yang berpotensi menjadi tempat terjadinya bullying, seperti lorong sekolah, kantin, toilet, lapangan, maupun area di luar kelas.

Kehadiran guru dinilai bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai sosok yang mampu membangun kedekatan dengan peserta didik.

"Guru perlu menjadi figur yang mudah didekati oleh peserta didik. Ketika hubungan guru dan siswa terbangun dengan baik, anak akan lebih nyaman bercerita jika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan," ungkapnya.

Korban dan Pelaku Sama-sama Perlu Pendampingan

Menurut Neny, penanganan bullying juga harus menyentuh aspek psikologis, baik bagi korban maupun pelaku.

Korban membutuhkan pemulihan agar tidak mengalami trauma berkepanjangan, sedangkan pelaku juga memerlukan pembinaan untuk memperbaiki pola perilaku.

"Pendampingan psikologis perlu diberikan tidak hanya kepada korban, tetapi juga kepada pelaku. Korban membutuhkan pemulihan agar tidak mengalami trauma berkepanjangan, sedangkan pelaku perlu dibantu memahami perilakunya dan mengubah pola interaksi yang negatif menjadi positif," jelasnya.

Kasus dugaan ledakan di MAN 3 Padang, lanjut Neny, menunjukkan pentingnya deteksi dini terhadap persoalan psikologis peserta didik.

Ia mengajak sekolah, orang tua, dan masyarakat membangun komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari perundungan.

"Ketika sekolah, orang tua, dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk menolak segala bentuk perundungan, maka lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh peserta didik akan lebih mudah diwujudkan. Pencegahan harus dimulai hari ini, bukan setelah muncul peristiwa yang kita sesali bersama," tutupnya.(*)

Editor : Hendra Efison
bullying di sekolah dugaan ledakan MAN 3 Padang pencegahan perundungan MAN 3 Padang Neny Andriani