Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jangan Tunggu Korban Bertambah, Pakar UNP Desak Sekolah Bangun Sistem Anti-Bullying

Endang Pribadi • Selasa, 14 Juli 2026 | 23:12 WIB
Suasana di lingkungan MAN 3 Padang pasca insiden dugaan ledakan benda yang diduga bom rakitan, Selasa (14/7/2026). Peristiwa tersebut kembali memicu perhatian terhadap pentingnya pencegahan bullying dan penguatan perlindungan peserta didik di sekolah.
Suasana di lingkungan MAN 3 Padang pasca insiden dugaan ledakan benda yang diduga bom rakitan, Selasa (14/7/2026). Peristiwa tersebut kembali memicu perhatian terhadap pentingnya pencegahan bullying dan penguatan perlindungan peserta didik di sekolah.

PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM – Kasus dugaan ledakan benda yang diduga bom rakitan jenis molotov di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Selasa (14/7/2026), kembali memunculkan perhatian terhadap bahaya perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Informasi yang berkembang menyebutkan siswa yang diduga terlibat dalam kasus tersebut sebelumnya kerap mengalami perundungan, meski dugaan motif itu masih menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian dan belum ditetapkan sebagai penyebab pasti.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa bullying bukan lagi sekadar persoalan kenakalan remaja.

Sejumlah kajian menunjukkan perundungan yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan mental anak, mulai dari kecemasan, depresi, penurunan prestasi belajar, hingga munculnya perilaku berisiko.

Pakar Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Fitri Arsih, menilai maraknya kasus bullying menunjukkan masih perlunya penguatan sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, sekolah tidak hanya bertanggung jawab mencetak prestasi akademik, tetapi juga memastikan seluruh peserta didik belajar dalam suasana yang aman dan bebas dari intimidasi.

"Bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang terhadap seseorang yang berada pada posisi lebih lemah. Ketimpangan kekuatan menjadi ciri utamanya, baik berupa kekuatan fisik, pengaruh sosial maupun tekanan verbal. Karena itu, bullying berbeda dengan konflik biasa antar teman karena terdapat unsur dominasi yang bertujuan menyakiti korban," ujar Fitri Arsih kepada Rakyat Sumbar, Selasa (14/7).

Pakar UNP Dorong Sekolah Bangun Sistem Anti-Bullying

Fitri mengatakan banyak kasus perundungan berkembang tanpa terdeteksi hingga akhirnya memunculkan dampak yang lebih besar.

Kondisi itu, menurutnya, terjadi karena lemahnya deteksi dini dan masih adanya anggapan bahwa tindakan perpeloncoan atau kekerasan verbal merupakan hal yang biasa.

"Banyak kasus berkembang tanpa diketahui guru ataupun pihak sekolah hingga akhirnya menimbulkan dampak serius. Bahkan di beberapa lingkungan pendidikan, budaya kekerasan dan perpeloncoan masih dianggap lumrah sehingga tanpa disadari terus diwariskan kepada generasi berikutnya," katanya.

Ia menegaskan setiap sekolah perlu memiliki kebijakan anti-bullying yang diterapkan secara konsisten.

Edukasi mengenai batas antara candaan dan perundungan juga harus diberikan kepada peserta didik secara berkelanjutan.

"Sekolah perlu memiliki komitmen bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk perundungan. Anak-anak harus memahami sejak awal mana yang masih sebatas candaan dan mana yang sudah masuk kategori bullying. Edukasi seperti ini harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika muncul kasus," tegasnya.

Fitri juga menilai guru memiliki posisi strategis dalam mendeteksi gejala awal perundungan.

Perubahan perilaku siswa, seperti menjadi pendiam, enggan bergaul, sering tidak masuk sekolah, atau mengalami penurunan prestasi, perlu segera ditindaklanjuti melalui pendekatan yang tepat.

Kepala MAN 3 Padang: Penanganan Diserahkan kepada Kepolisian

Selain penguatan pencegahan, Fitri mendorong sekolah menyediakan mekanisme pelaporan yang aman dan ramah anak.

Menurutnya, korban sering memilih diam karena takut mendapat balasan dari pelaku atau khawatir laporannya tidak dipercaya.

Ia juga mengingatkan penanganan terhadap pelaku tidak cukup dilakukan melalui pemberian hukuman.

Pendekatan edukatif dan pembinaan diperlukan untuk mengetahui faktor yang melatarbelakangi munculnya perilaku perundungan.

"Tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki empati, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Ketika nilai-nilai itu benar-benar menjadi budaya di sekolah, maka ruang bagi bullying akan semakin sempit," tuturnya.

Terpisah, Kepala MAN 3 Kota Padang Marliza membenarkan adanya insiden tersebut. Ia mengatakan saat kejadian sekitar pukul 10.00 WIB, dirinya bersama para guru sedang mengikuti rapat sehingga tidak mendengar suara ledakan.

"Sekitar pukul 10.00 WIB, saat jam istirahat kami sedang rapat. Kami tidak mendengar suara ledakan. Informasinya justru kami terima dari guru yang berada di luar ruang rapat," ujarnya.

Marliza menambahkan, aparat kepolisian bersama unsur TNI segera mengamankan lokasi setelah menerima laporan.

Pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada aparat penegak hukum dan belum meminta keterangan dari siswa yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut karena masih menunggu hasil penyelidikan resmi.(*)

Editor : Hendra Efison
bullying di sekolah dugaan ledakan MAN 3 Padang MAN 3 Padang Universitas Negeri Padang Fitri Arsih