Jejak Sejarah dan Lonjakan Penumpang Perkuat Posisi Strategis Kereta Api Sumbar di Pulau Sumatra

Hendra Efison • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 09:20 WIB
Kereta api melintas di jalur perkeretaapian Sumatera Barat. KAI Divre II Sumbar mencatat jumlah pelanggan terus meningkat dan menilai jaringan rel memiliki potensi besar mendukung konektivitas Pulau Sumatra.
Kereta api melintas di jalur perkeretaapian Sumatera Barat. KAI Divre II Sumbar mencatat jumlah pelanggan terus meningkat dan menilai jaringan rel memiliki potensi besar mendukung konektivitas Pulau Sumatra.

PADEK.JAWAPOS.COM—Rel kereta api di Sumatera Barat tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga bagian penting dari sejarah pembangunan daerah. Kini, jaringan yang dikelola PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat terus berperan dalam mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta pengembangan sektor pariwisata di provinsi tersebut.

Sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat kembali memperoleh makna strategis seiring arah kebijakan nasional yang memperkuat konektivitas perkeretaapian Pulau Sumatra. Sumatera Barat dinilai memiliki modal besar berupa jaringan rel yang telah terbangun, aset prasarana, dan layanan yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat.

Pada masa lalu, jalur kereta api menjadi penghubung kawasan tambang batu bara Ombilin menuju Pelabuhan Emmahaven yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur.

Jaringan tersebut juga membuka akses yang menghubungkan wilayah pesisir dan pedalaman, mulai dari Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Sawahlunto sehingga mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi serta perkembangan sosial dan budaya.

Perkeretaapian di Sumatera Barat mulai berkembang pada akhir abad ke-19 untuk mendukung distribusi batu bara Ombilin. Stasiun Padang dibangun pada 1889 sebagai simpul distribusi menuju Pelabuhan Emmahaven, kemudian disusul Stasiun Pulau Air pada 1891 yang diresmikan pada 1 Oktober 1892 sebelum jaringan rel terus berkembang ke Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Pariaman, dan Naras.

Jaringan Rel dan Jumlah Pelanggan Terus Bertumbuh

Saat ini, KAI Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp). Dari jumlah tersebut, 110,910 kmsp merupakan jalur aktif, sedangkan 201,322 kmsp lainnya masih berstatus nonaktif.

Operasional perkeretaapian didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang. Layanan penumpang dilayani melalui KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai, sementara angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.

Kepercayaan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel juga terus meningkat. Sepanjang Semester I 2026, KAI Divre II Sumatera Barat melayani 1.140.586 pelanggan, sedangkan volume angkutan barang mencapai 556.465 ton yang terdiri atas 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan meningkat dari sekitar 1,09 juta pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025 atau tumbuh sekitar 81 persen.

KA Pariaman Ekspres menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbesar, sementara KA Lembah Anai juga mencatat peningkatan setelah penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.

Potensi Reaktivasi Jalur Perkuat Konektivitas

Potensi perkeretaapian Sumatera Barat turut didukung pertumbuhan sektor pariwisata. Destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi memiliki peluang semakin terkoneksi melalui transportasi berbasis rel.

Selain itu, jalur nonaktif seperti Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi, hingga Solok–Muaro Kalaban dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan pada masa mendatang.

Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumatera Barat menjadi modal penting dalam mendukung penguatan konektivitas Pulau Sumatra.

"Perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Kereta api mendukung mobilitas harian, sektor pariwisata, distribusi logistik, hingga akses menuju bandara. Hal ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus dikembangkan," ujar Reza.

Menurutnya, tren peningkatan jumlah pelanggan dan angkutan barang menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api.

"Apabila pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. KAI Divre II Sumatera Barat siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan," tutup Reza.(*)

Editor : Hendra Efison
sejarah kereta api Sumbar konektivitas Pulau Sumatra KAI Divre II Sumbar Reza Shahab kereta api Sumatera Barat