Pertanian Modern PM-AAS Mulai Diterapkan di Salayo Solok, Target Hasil Padi 12 Ton per Hektare

Dila Kartika Sari • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 22:30 WIB
Pertanian Modern PM-AAS mulai diterapkan di lahan Keltan Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026), dengan target produktivitas padi 12 ton per hektare melalui mekanisasi dan teknologi budidaya.
Pertanian Modern PM-AAS mulai diterapkan di lahan Keltan Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026), dengan target produktivitas padi 12 ton per hektare melalui mekanisasi dan teknologi budidaya.

SALAYO, PADEK.JAWAPOS.COM – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai menerapkan pola Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi di tengah keterbatasan lahan sawah. Program yang ditandai dengan penanaman perdana benih padi di lahan Kelompok Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026), menargetkan hasil panen mencapai 10 hingga 12 ton gabah per hektare.

Penanaman perdana tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy, Wakil Bupati Solok Chandra, Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar Afniwirman, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Deslirizaldi, Kepala BRMP Sumbar, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy menegaskan modernisasi pertanian menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan sektor pertanian di tengah semakin terbatasnya lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat.

"Ini kegiatan yang bagus sekali untuk mendukung program pemerintah," kata Vasko.

Menurutnya, peningkatan produksi pangan tidak lagi dapat mengandalkan perluasan lahan pertanian. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi dan berbagai inovasi agar produktivitas setiap hektare lahan terus meningkat.

"Kita ingin teknologi ini benar-benar diterapkan oleh petani sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan mereka ikut terangkat," ujarnya.

Target Produktivitas Capai 12 Ton per Hektare

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman, menjelaskan PM-AAS merupakan program pertanian modern yang digagas Menteri Pertanian untuk meningkatkan produktivitas melalui mekanisasi serta penerapan budidaya dan sistem tanam yang lebih presisi.

Berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan bibit hasil persemaian, PM-AAS menerapkan penanaman benih secara langsung menggunakan alat tanam khusus.

Metode ini membuat proses tanam lebih cepat, lebih efisien, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta memungkinkan pengaturan populasi tanaman secara lebih optimal.

Afniwirman mengatakan kebutuhan benih pada sistem PM-AAS mencapai sekitar 70 hingga 80 kilogram per hektare, lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang rata-rata sekitar 25 kilogram per hektare. Kebutuhan pupuk juga disesuaikan untuk mendukung populasi tanaman yang lebih rapat.

"Dengan sistem ini produktivitas ditargetkan mencapai sekitar 10 hingga 12 ton gabah per hektare. Kalau luas lahan sawah semakin terbatas, maka yang harus kita lakukan adalah meningkatkan produktivitas dari setiap hektare lahan yang ada," ujarnya.

Penanaman Perdana di Sumbar

Afniwirman menyebut penanaman di Nagari Salayo menjadi penerapan perdana PM-AAS di Sumatera Barat setelah sebelumnya masih berada pada tahap uji coba.

"Hari ini merupakan penanaman pertama PM-AAS di Sumatera Barat. Sebelumnya baru tahap uji coba," katanya.

Untuk mempercepat implementasi program tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan di lapangan.

Setiap penyuluh ditargetkan mendampingi penerapan PM-AAS pada lahan sekitar 50 hektare sehingga teknologi budidaya modern dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Dengan jumlah penyuluh pertanian di Sumbar yang mencapai lebih dari seribu orang, potensi pendampingan diperkirakan mampu menjangkau sekitar 50 ribu hektare lahan pertanian.

Pemprov Sumbar berharap penerapan PM-AAS di Kabupaten Solok menjadi model pengembangan pertanian modern di berbagai sentra produksi padi lainnya.

Melalui mekanisasi, penerapan teknologi, dan pendampingan berkelanjutan, produktivitas pertanian diharapkan meningkat sehingga memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.(*)

Editor : Hendra Efison
ketahanan pangan Sumbar PM-AAS Sumbar produktivitas padi Pertanian Modern Vasko Ruseimy