Jembatan Bailey Rp4,9 Miliar Buka Kembali Jalur Tanahdatar–Sijunjung, Akses Warga Pulih Pascabanjir

Hendra Efison • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 19:30 WIB
Jembatan Bailey sepanjang 42 meter di Ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu, perbatasan Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Sijunjung, kembali dibuka untuk lalu lintas kendaraan setelah putus akibat banjir bandang.
Jembatan Bailey sepanjang 42 meter di Ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu, perbatasan Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Sijunjung, kembali dibuka untuk lalu lintas kendaraan setelah putus akibat banjir bandang.

PADEK.JAWAPOS.COM – Jembatan Bailey senilai Rp4,9 miliar yang dibangun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) kembali membuka akses vital Ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu di perbatasan Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Sijunjung. Jembatan sepanjang 42 meter tersebut mulai dapat dilalui kendaraan sejak 9 Juli 2026 setelah jalur itu terputus akibat banjir bandang pada 20 Mei 2026.

Beroperasinya Jembatan Bailey mengakhiri keterisolasian masyarakat yang berlangsung sekitar satu setengah bulan.

Selama akses terputus, mobilitas warga, distribusi barang, aktivitas pendidikan, hingga roda perekonomian di kawasan perbatasan terdampak karena jalur utama tidak dapat digunakan.

Sebelum jembatan darurat dibangun, masyarakat harus memutar melalui jalur Kumani–Tanjung Bonai Aua–Koto Panjang–Tigo Jangko–Pangian Lintau.

Rute alternatif tersebut menambah jarak perjalanan sekitar 19 hingga 20 kilometer dengan waktu tempuh mencapai satu jam.

Kondisi itu berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat. Pelajar dan mahasiswa asal Sijunjung yang menempuh pendidikan di Tanahdatar harus melakukan perjalanan lebih jauh, sementara distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan kebutuhan pokok ikut mengalami hambatan.

Dibangun dengan Anggaran Rp4,9 Miliar

Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumatera Barat, Mitra Hengki, mengatakan pembangunan Jembatan Bailey merupakan bagian dari percepatan pemanfaatan dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk penanganan dampak bencana sesuai arahan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy.

"Total anggaran pembangunan Jembatan Bailey beserta pemasangannya mencapai Rp4,9 miliar. Ini merupakan tindak lanjut atas komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mempercepat pemanfaatan dana TKD dalam penanganan bencana sehingga masyarakat dapat kembali lancar beraktivitas secepat mungkin," ujar Mitra Hengki, Selasa (28/7/2026).

Ia menjelaskan, Jembatan Bailey yang dibangun memiliki panjang 42 meter dengan lebar 4,2 meter serta mampu menahan beban kendaraan hingga 15–20 ton.

Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp4,1 miliar digunakan untuk pengadaan konstruksi jembatan, sedangkan sekitar Rp800 juta dialokasikan untuk pembangunan pondasi tapak rangka atau abutment secara swakelola.

Menurut Mitra Hengki, proses perakitan jembatan dimulai pada 6 Juli 2026 dan tiga hari kemudian sudah dapat dimanfaatkan masyarakat.

Pekerjaan yang membutuhkan waktu paling lama adalah pembangunan pondasi, sementara penyelesaian seluruh pekerjaan ditargetkan rampung pada awal Agustus 2026.

Solusi Sementara Sambil Menunggu Jembatan Permanen

Mitra Hengki menegaskan Jembatan Bailey dibangun sebagai solusi cepat untuk mengembalikan fungsi transportasi sambil menunggu pembangunan jembatan permanen.

Menurutnya, pembangunan jembatan permanen diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar.

"Meski bersifat sementara, Jembatan Bailey memiliki daya tahan yang cukup lama dan dapat digunakan bertahun-tahun dengan kapasitas beban hingga 15 sampai 20 ton," katanya.

Ia menambahkan percepatan pembangunan jembatan tersebut menjadi bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam merespons kebutuhan mendesak masyarakat pascabencana.(*)

Editor : Hendra Efison
Tanahdatar Sijunjung dana TKD Sumbar Jembatan Bailey 42 meter jembatan bailey Dinas BMCKTR Sumbar