Suryono Ciptakan Blockchain Menjaga Kepercayaan Pencinta Kopi Dunia

Mhd Nazir Fahmi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 09:38 WIB
Suryono berada di area pembibitan kopi Koperasi Alam Korintji (ALKO), mengembangkan inovasi untuk mendukung kualitas dan kepercayaan perdagangan kopi.
Suryono berada di area pembibitan kopi Koperasi Alam Korintji (ALKO), mengembangkan inovasi untuk mendukung kualitas dan kepercayaan perdagangan kopi.

PADEK.JAWAPOS.COM – Bagi banyak orang, blockchain identik dengan Bitcoin. Bagi Suryono, blockchain adalah tentang kepercayaan.

“Bitcoin hanya salah satu produk blockchain. Yang kami gunakan adalah teknologinya,” ujar Suryo, panggilan akrab Suryono, pendiri lahirnya Koperasi Alam Korintji (ALKO).

Putra kelahiran Dharmasraya ini kemudian mengambil contoh sederhana. Bayangkan seseorang memesan kendaraan melalui aplikasi. Pengemudi dan penumpang tidak saling mengenal.

Namun, keduanya percaya karena ada sistem yang mengikat. Pengemudi wajib mengantar, penumpang wajib membayar. “Itulah smart contract,” kata Suryono, Selasa (4/8/2026).

Prinsip yang sama diterapkan ALKO dalam perdagangan kopi.

Melalui platform digital Qthink-X, setiap transaksi tercatat secara permanen. Pembeli mengetahui dari kebun mana kopi berasal, siapa petaninya, kapan dipanen, bagaimana diproses, hingga ke pelabuhan mana kopi diberangkatkan.

Semua data, katanya, tersimpan di blockchain dan tidak dapat diubah secara sepihak. Bagi petani, teknologi itu berarti kepastian.

Ceritanya, mereka tidak lagi hanya menjual kopi. Mereka menjual identitas, kualitas, dan rekam jejak yang bisa diverifikasi oleh pembeli di mana pun berada.

Sistem ini, jelas Suryo, mulai dikembangkan ALKO sejak 2020, jauh sebelum blockchain ramai dibicarakan dalam sektor pertanian Indonesia.

Kini, jelasnya, teknologi tersebut menarik perhatian berbagai negara, termasuk Ethiopia, Vietnam, dan Kolombia, yang ingin mempelajari model digital yang dikembangkan ALKO. Di balik layar, aktivitas ekspor terus berjalan.

Diakuinya, rata-rata sekitar 200 ton kopi dikirim setiap bulan dari Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung menuju berbagai negara melalui sejumlah pelabuhan di Indonesia.

Ironisnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi mencari pembeli. “Kami justru sering kesulitan mendapatkan kapal untuk pengiriman karena jadwal pelayaran penuh,” ujar Suryono sambil tersenyum.

Kisah ALKO menunjukkan bahwa masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kesuburan tanah.

Ia juga ditentukan oleh kemampuan membangun kepercayaan. Dan di lereng Gunung Kerinci, kepercayaan itu kini ditulis bukan lagi di atas kertas, melainkan di dalam blockchain.

Di situlah makna baru transmigrasi menemukan wujudnya. Bukan sekadar memindahkan manusia ke tanah baru, melainkan melahirkan inovasi yang membuat hasil kerja petani Indonesia dihargai oleh dunia. (*)

Editor : Hendra Efison
Suryono blockchain kopi Koperasi Alam Korintji Qthink-X ekspor kopi Indonesia