PADEK.JAWAPOS.COM— Yoga Pratama, pemuda 18 tahun asal Taratak, Kelurahan Koto Lua, Kecamatan Pauh, Kota Padang, akan berangkat ke Jepang untuk bekerja di sektor pertanian.
Lulusan SMA Negeri 15 Padang tahun 2025 itu menjadi peserta pertama dari delapan peserta pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang berhasil menuntaskan seluruh proses hingga memperoleh kontrak kerja.
Keberangkatan Yoga menjadi momen haru bagi keluarganya. Ia dijadwalkan bertolak ke Jepang pada Rabu (26/8/2026) untuk bekerja di Numamoto Shinichi, Kota Tsuchiura, Prefektur Ibaraki.
Yoga merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Huri Dekrinata (39) dan Dewi Sartika (37). Ayahnya bekerja sebagai petugas keamanan di PT Telkom, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Dua adiknya masih bersekolah. Kondisi ekonomi keluarga membuat Yoga memilih untuk segera bekerja setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, alih-alih melanjutkan kuliah seperti sebagian teman sebayanya.
Keputusan itu diambil karena Yoga ingin membantu orang tua sekaligus ikut memenuhi kebutuhan pendidikan kedua adiknya.
Namun, ia tidak menyangka pilihan tersebut justru membawanya mendapatkan kesempatan bekerja ribuan kilometer dari kampung halaman.
Kesempatan menuju Jepang diperoleh setelah Yoga mengikuti program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang diselenggarakan Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) Koto Lua bersama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPK) Kamisato Gakuin Center.
Program yang telah berjalan sejak 2025 tersebut mendapat dukungan PT Semen Padang melalui program Basinergi Membangun Nagari.
Selama pelatihan, Yoga tidak hanya mempelajari bahasa Jepang, tetapi juga budaya, kebiasaan, kedisiplinan, dan tata kehidupan masyarakat di negara tujuan.
Perjalanan menuju kontrak kerja tidak berlangsung singkat. Yoga harus menjalani berbagai tahapan seleksi, tes, serta proses administrasi sebelum akhirnya dinyatakan lolos sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang.
“Perjalanan untuk sampai ke titik ini tidak mudah. Banyak proses yang harus saya lalui, mulai dari belajar bahasa dan budaya Jepang hingga menjalani berbagai tahapan tes,” katanya.
Dari delapan peserta pelatihan, empat orang telah memperoleh kontrak kerja di Jepang. Namun, Yoga menjadi peserta pertama yang mendapatkan kepastian keberangkatan.
Bagi Yoga, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia melihat kesempatan bekerja di Jepang sebagai jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga sekaligus menyiapkan masa depannya.
“Saya bangga, bersyukur, sekaligus sangat senang bisa menjadi bagian dari program PMI ini. Kesempatan tersebut sangat luar biasa dalam hidup saya dan tentunya harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga saya yang kondisi ekonominya masih terbatas,” tuturnya.
Yoga akan menjalani kontrak kerja selama satu tahun dengan peluang perpanjangan hingga lima tahun apabila memenuhi ketentuan dan menunjukkan kinerja yang baik.
Ia pun telah menyiapkan rencana setelah kembali ke Indonesia. Pengalaman dan hasil kerjanya di Jepang ingin digunakan untuk membangun usaha rumah kos sebagai sumber penghasilan bagi masa depannya dan keluarga.
“Target saya setelah sukses di Jepang dan kembali ke Indonesia adalah membuka usaha rumah kos. Karena itu, kesempatan besar ini tidak akan saya sia-siakan,” katanya.
Bagi pemuda 18 tahun itu, keberangkatan ke Jepang bukan hanya langkah pertama dalam perjalanan kerja.
Ia membawa harapan untuk membantu keluarga, mendukung pendidikan kedua adiknya, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.(*)
Editor : Hendra Efison