PADEK.JAWAPOS.COM – Pemkab Solok memperkirakan kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascagalodo mencapai sekitar Rp819 miliar. Anggaran itu mencakup pembangunan sabo dam, normalisasi sungai, serta pemulihan rumah, lahan pertanian, gedung perkantoran, dan sarana-prasarana umum.
Dari total kebutuhan tersebut, sekitar Rp300 miliar untuk normalisasi sungai dan Rp250 miliar untuk pembangunan sabo dam.
Sementara sekitar Rp269 miliar lainnya dibutuhkan untuk perbaikan rumah warga, lahan pertanian, gedung perkantoran, serta sarana dan prasarana umum yang terdampak bencana.
Estimasi kebutuhan tersebut disampaikan Bupati Solok Jon Firman Pandu dalam rapat koordinasi percepatan penanganan bencana di Posko Utama, Kamis (24/9/2026). Rapat dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Kepala BNPB Suharyanto, serta pihak terkait.
Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana
Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan pemerintah perlu memperkuat langkah mitigasi karena potensi curah hujan masih tinggi di kawasan tersebut.
“Karena memang, berdasarkan prakiraan BMKG curah hujan masih berpotensi tinggi, oleh sebab itu kita mengusulkan agar normalisasi sungai menjadi salah satu prioritas selain pencarian korban dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” kata Mahyeldi.
Mahyeldi juga meminta pemerintah kabupaten dan kota di Sumbar melakukan susur sungai secara berkala. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada pohon tumbang, material longsoran, atau hambatan lain yang dapat mengubah arah aliran air.
Untuk tahap pemulihan, BNPB mendorong percepatan penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Dokumen tersebut akan menjadi dasar menentukan kebutuhan perbaikan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur, termasuk kemungkinan pembangunan pengendali bencana maupun relokasi jika diperlukan.
43 Rumah Warga Rusak akibat Galodo
Bupati Solok melaporkan sebanyak 43 rumah warga terdampak dengan rincian 11 unit mengalami kerusakan berat dan 32 unit rusak ringan.
Selain rumah, galodo juga berdampak terhadap lahan pertanian, infrastruktur, dan sejumlah gedung perkantoran.
Kondisi tersebut membuat pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok ikut terganggu.
Dalam laporan tersebut, Jon Firman Pandu menyebut dua warga sebelumnya dinyatakan hilang. Satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian.
Tim gabungan terus melakukan penyisiran di kawasan bantaran sungai yang terdampak galodo.
Pemkab Solok Butuh Peralatan Penanganan
Untuk mempercepat penanganan, Pemkab Solok membutuhkan sejumlah peralatan, antara lain mini ekskavator untuk menjangkau lokasi yang sulit dimasuki alat berat dan breaker untuk memecah material batu berukuran besar.
Pemkab Solok juga membutuhkan sekitar 10 unit tenda berukuran besar sebagai lokasi pelayanan sementara agar pelayanan publik di daerah tersebut tetap berjalan.
Sementara itu, kebutuhan warga yang mengungsi terus dipenuhi, termasuk selimut, matras, obat-obatan serta kebutuhan kelompok rentan, anak-anak, bayi, dan balita. Sebagian warga terdampak juga sementara ditampung di rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati.(*)
Editor : Hendra Efison